Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Indonesia Dalam Pandangan Soekarno, Ibnu Kholdun dan Hari Kemerdekaan

Oleh: Cepian
Ketika ilmuwan sosial terdahulu, seperti Plato, Kong Fu Tse, Thuodides, Machiavelli sependapat, bahwa penggerak kemajuan sosial adalah setiap mereka yang tengah memegang posisi sentral, yaitu para penguasa. Namun Ibnu Kholdun, dalam bukunya yang berjudul muqaddimah mengungkapkan, maju dan mundurnya suatu masyarakat tidaklah disebabkan oleh keberhasilan atau kegagalan sang penguasa, atau akibat pristiwa kebetulan atau takdir semata. Akan tetapi, kemajuan sosial lebih mengandalkan masyarakat syari’yyah yang akan mengalami perubahan dengan sebaik-baiknya perubahan.
Bagi Kholdun, fluktuasi sosial suatu bangsa berlangsung pada rentang waktu sekitar satu abad. Semuanya terdiri atas tiga generasi, yaitu: 1. Generasi Pembangun, adalah generasi yang dengan segala kesederhanaan dan solidaritas tunduk dengan tulus di bawah otoritas kekuasaan yang didukungnya. 2. Generasi Penikmat, yakni generasi yang dating setelah generasi pembangun. Mereka merasa diuntungkan secara ekonomi dan politik dalam sebuah system kekuasaan sehingga mereka tidak lagi peka terhadap kepentingan bangsa dan negara. 3. Generasi ketiga adalah generasi yang tidak lagi memiliki hubungan emosional dengannNegara. Jika suatu bangsa sudah sampai pada generasi ketiga, maka keruntuhan negara sebagai sunnatullah sudah diambang pintu. Dan menurut perhintungan Kholdun, siklus ini berlangsung setiap satu abad (muqaddimah:172). Jika dari rentang waktu satu abad dibagi tiga generasi, maka masing-masing generasi berusia sekitar 33,33 tahun.
Jika kita lihat konteks Indonesia, enam puluh tujuh tahun yang lalu Indonesia melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan pada hari Jum’at, tanggal 17 Agustus 1945 M. bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 H. Ini bukan merupakan suatu kebetulan, melainkan sebagai hasil pertimbangan dan perhitungan matang dari sang proklamator, yakni Bung Karno dan Bung Hatta. Fakta sejarah yang terjadi pada saat detik-detik menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, diwarnai oleh perdebatan hebat yang lahir dari satu keinginan yang sama (mempercepat pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan) namun terdapat pandangan yang berbeda antara pemuda dengan golongan tua. Golongan muda bersikeras untuk menyegerakan pelaksanaan Proklamasi tanpa harus ada intervensi dari pemerintah Jepang. Sementara golongan tua lebih memilih utnuk melaksanakan Proklamasi melalui suatu revolusi yang sistematis dan terorganisir dengan maksud agar tidak menyalahi ketentuan pemerintah Jepang. Namun hal itu oleh golongan muda justru dianggap seabagai bentuk kepatuhan terhadap Jepang, sehingga golongan muda tidak menyetujui rencana golongan tua. Perbedaan pandangan ini, mengakibatkan timbulnya penekanan dari golongan muda terhadap golongan tua yang berujung pada “aksi penculikan” terhadap Soekarno dan Hatta(Marwati Djoened Poesponegoro, ed. 1984:77-81).
Sementara itu, Lasmidjah Hardi ( 1984:58 ); Ahmad Soebardjo ( 1978: 77-81) melukiskan perdebatan serius yang terjadi antara golongan muda dan golongan tua pada tanggal 15 Agustus 1945, kira-kira pukul 22:00 di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta. Saat malam itu, perdebatan antara pemuda dan orang tua semakin memanas. Bahkan Lasmidjah menyebutkan, bahwa Wikana salah seorang dari pemuda mengancam Soekarno, apabila Proklamasi tidak diumumkan malam itu juga, maka esok hari adalah darah dan kematian. Namun ancaman itu tidak menggoyahkan keteguhan Soekarno untuk melaksanakan Proklamasi pada tanggal 17 Agustus.
Kemudian, sebagai salah satu bukti sejarah yang menunjukan bahwa hari kemerdekaan jatuh pada tanggal 17 adalah perhitungan yang sangat matang, yaitu pada peristiwa Rengasdengklok, sebagaimana dikemukakan Lasmidjah Hardi (1984:60). Soekarni dan rekan-rekannya dari golongan muda terus mendesak Soekarno-Hatta agar secepatnya melaksanakan Proklamasi seperti yang telah direncanakan oleh para pemuda di Jakarta. Tetapi, Soekarno-Hatta tetap berpegang teguh pada perhitungan dan rencana mereka sendiri. Sehingga siang itu terjadi perdebatan panas. Namun, setelah suasana kembali tenang, terjadilah dialog antara Soekarni dan Soekarno yang sangat memperlihatkan keteguhan Soekarno pada perhitungan dan rencana pelaksanaan Proklamasi; “yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17”. ”mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa tidak sekarang saja, atau tanggal 16?” Tanya Soekarni. “saya seorang yang percaya pada mistik. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih member harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang berada dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua berpuasa, ini berarti saat yang paling suci bagi kita, tanggal 17 besok hari Jum’at, hari Jum’at itu Jum’at legi. Jum’at yang berbahagia, Jum’at suci. Al-Quran diturunkan pada tanggal 17, orangIslam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia” demikianlah potongan dialog antara Bung Karno dengan para pemuda sebagaimana ditulis Lasmidjah Hardi (1984:61) Proklamasi tersebut merupakan fase awal generasi pertama bangsa Indonesia yang berdaulat. Maka sebagaimana dimaksud dalam teori Ibnu Kholdun. Jika masing-masing genersi berusia 33,33 tahun, maka usia generasi pertama bangsa Indonesia berakhir sekitar tahun 1978 M/1979 M. Setelah itu, hadirlah generasi kedua yang jika dalam perhitungan Kholdun berusia 33,33 tahun, maka generasi kedua bangsa Indonesia berakhir sekitar tahun 2012 M./2013 M.
Dan yang lebih menarik bagi saya adalah mengenai penghitungan dan pemilihan tanggal pelaksanaan Proklamasi kemerdekaan, yaitu ketika HUT RI yang jatuh pada hari Jum’at di bulan Ramadhan terulang kembali untuk yang ke tiga kalinya di tahun 2012 sekarang ini. Mari kita coba perhatikan suatu fenomena sejarah yang cukup unik dan menarik berikut ini: 1). Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 jatuh pada hari jum’at dan bertepatan dengan bula suci Ramadhan 1364 H, 2). Maka pada HUT RI yang ke 34 (1979 M.) menurut kalender Hijri-Gregorian Converter Adel A. al-Rumaih 1996-1997 tanggal 17 agustus kembali jatuh pada hari Jum’at dan bertepatan dengan 24 Ramadhan 1399 H. dan 3). Bahwa 33 tahun dari 1979M. yakni di tahun 2012 ini pelaksanaan HUT RI yang ke 67 juga jatuh pada hari Jum’at, dan bertepatan dengan 28 Ramadhan 1433 H.
Mungkin saja pendapat diatas merupakan bagian dari kamus “kebetulan”. Namun menurut Mahyuddin, inspirasi Kholdun didapat dari Al-Quran, betapa pun teori ini masih dapat diperdebatkan, tapi yang menarik adalah persoalan ‘ashobiyah atau solidaritas yang terdapat dalam anggota masyarakat itu. Karena menurut Kholdun, golongan masyarakat terdiri dari dua bagian. Pertama masyarakat badawah (baduy) termasuk masyarakat yang primitive tapi memiliki integritas dan solidaritas yang sangat kuat, dan kedua masyarakat hadlarah (berperadaban) termasuk masyarakat modern yang memiliki sifat hubungan sosial yang impersonal dan superficial. Demikianlah si Bapak Sosiolog Muslim Kholdun menjelaskan bahwa semakin generasi ke-3 adalah generasi modern, semakin modern suatu masyarakat semakin melemahlah nilai solidaritas dan integritasnya. Integritas sosial yang rendah berakibat pada control sosial yang rendah, maka merajalelalah kejahatan. Wallahu’alam.

Posting Komentar untuk "Indonesia Dalam Pandangan Soekarno, Ibnu Kholdun dan Hari Kemerdekaan "