Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah Gerakan Dakwah di Sukamanah Rongga Bandung Barat

 
Dari kegelapan menuju cahaya

 
 
 
 
 
 
 
Kata Pengantar


Puji Syukur dengan ikhlas terpanjatkan kehadirat Allah Swt. Karena berkat rahmat, inayah serta bimbingan-Nya Dinul Islam telah sampai dan menggoreskan tinta sejarah ditengah kehidupan kita. Dialah Tuhan yang telah menurunkan wahyu kepada Muhammad Saw. Sehingga dengan wahyu tersebut Agama Islam terbentang luas sebagai satu-satunya jalan lurus menuju kebahagiaan dunia akhirat.
Agama yang disampaikan Allah kepada Rasul-Nya, Muhammad Saw. Telah berusia belasan abad. Dengan sejuta warna kehidupan perjalanan risalah islam yang digambarkan dalam sejarah telah membawa Agama ini sampai ke tengah-tengah kita, sehingga memberikan warna baru yang sangat berpengaruh terhadap segala aspek kehidupan yang kita jalani.
Namun, seiring dengan itu generasi yang hidup dalam kedamaian berkat karuhun para pejuang ideology, telah banyak mengabaikan dan seolah tidak mempedulikan sejarah yang telah terukir di daerahnya  sendiri. Padahal perjuangan yang telah mereka wariskan bukanlah untuk dilupakan, melainkan harus senantiyasa dipertahankan dengan melanjutkan perjuangan dalam mencapai harapan yang menjanjikan kedamaian di dunia dan akhirat.
Buku yang berada ditangan pembaca ini  ditulis selain dalam rangka memenuhi salah satu tugas akhir semester III mata kuliah Sejarah Peradaban Islam(SPI), di jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Universitas Islam Negri Sunan Gunung Djati Bandung juga dimaksudkan agar menjadi bahan perenungan bahwa ternyata islam yang eksis di daerah-daerah memiliki sejarah yang sangat unik dan penuh dengan pelajaran. Seperti halnya yang akan dipaparkan dalam buku ini mengenai sejarah islam di daerah Sukamanah Gununghalu yang memiliki banyak hal menarik untuk dijadikan bahan pelajaran bagi para aktifis dakwah masa kini.
Berawal dari penangkapan seorang kiyai, sesepuh di kampung Legok Ngenang (Mama Dawami bin Opo-1949) yang bersikeras menentang praktek-praktek kesyirikan yang berlanjut samapai awal tahun 1973. Kemudian kehadiran dua orang Pegawai Negeri Sipil yang ditugaskan sebagai tenaga pengajar di SDN Cinengah I telah merubah paradigma masyarakat mengenai eksistensi tuhan serta praktek-praktek pribadahan yang ortodok dan beraroma mejik sedikit-sedikit mulai menuju pada pemahaman quran sunnah. Dari hasil wawancara dan cerita orang tua kedua hal diatas inilah yang dianggap sebagai latar belakang pergerakan dakwah di Sukamanah dan sekitarnya. Kedua hal ini telah memberikan pengaruh besar terhadap kepercayaan dan pemahaman masyarakat mengenai islam.
 Disamping itu, pergolakan politik masa pemerintahan orde baru telah banyak berpengaruh terhadap perkembangan pemahaman masyarakat sukamanah mengenai arti islam yang sesungguhnya, pembatasan terhadap penyebaran islam yang dikumandangkan oleh presiden Suharto pada Penetapan Presiden (Penpres) Nomor 7 Tahun 1959.  justru memicu pergerakan PPUI masuk ke daerah Sukamanah Gunughalu untuk mendakwahkan makna ideology islam secara holistic dan radikal. Yang akhirnya, gerakan dakwah ini berujung pada sebuah Aliansi Dewan Kemakmuran Masjid yang anggotanya terdiri dari tujuh DKM, serta berhasil mendirikan sebuah yayasan Al-munawarah sebagai sentral pendidikan islam di Sukamanah.
Akhirnya, dengan berbagai kekurangan dan kelemahan penulis berusaha menyusun buku yang diberi judul Estafeta Pergerakan Dakwah di Gununghalu , Dengan penuh harapan semoga buku ini bisa memberikan nilai manfaat bagi para pembaca yang budiman. Dan demi kelengkapan buku ini, kritik membangun serta saran dari para pembaca akan selalu penulis tunggu.


Bandung, 09 Desember 2010
Penulis

Terima Kasih
Yang pertama dan paling utama kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat iman serta Islam dan juga kesehatan kepada penulis, serta berkat rahmat dan hidayahnya penulis mampu menyelesaikan buku yang berada di tangan pembaca ini.
Teruntuk Ayahanda dan Ibunda tercinta penulis ucapkan jazakumullahu khairan katsiraa
Berkat kasih sayang, cinta dan pengorbananmu aku bisa bertahan hidup dan terus berkarya demi keluarga, agama dan bangsa.
Semoga Allah membalas segala kebaikanmu dengan syurga amien.
Kepada kakakku Apipudin dan Aep Chaerudin terima kasih atas segala bimbingan dan informasi yang telah diberikan, sungguh sangat membantu dalam penyusunan buku ini. Kapada Mang Oid yang selalu semangat menceritakan penglaman-pengalamannya yang sangat berkaitan dengan pembahasan dalam buku ini.
Bapak Aang Ridwan, dosen yang paling semangat di kelas kami. Beliau selalu siap meluangkan waktu untuk menuangakan ilmunya pada kami. Terimakasih banyak pak semoga Allah membalas segala kebaikan bapak dan mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi diperkuliahan berikutnya.
Teruntuk adinda Ima Sumartini yang selalu baik hati memberikan segala fasilitas selama penyusunan, terima kasih segala kebaikanmu banyak memberikan kontribusi berharga dalam penyususnan buku ini semoga adinda cepat lulus dan mudah-mudahan segala kebaikanmu menjadi amal shaleh di sisi Allah SWT. Amien.
Yang terakhir penulis ucapkan kepada semua rekan-rekan seperjuangan yang tidak mungkin disebutkan satu persatu, selama ini mereka telah bersedia berdiskusi dan sharing, dan berbagai pihak yang telah memberikan kotribusi dalam penyusunan buku ini,mudah-mudahan Allah senantiyasa memberikan kemudahan serta kelancaran kepada kita semua amien.

Daftar Isi

Potret Sukamanah Sebelum Tahun 1973    1
Kehidupan social    3
Realita Spiritualitas Masyarkat    3
Realitas Keberagamaan Masyarakat Sukamanah    6
Tokoh Kelompok Mejis    7
Paradigma dan Praktek Tradisi Kelompok Mejis    7
Sidekah Ngamuludkeun    8
Ngabengkat    9
Ngaruat Bumi    9
Mapag Sri/Metemeyan    10
gadiukeun pare (pasca)    11
Tempat Pemujaan Bukit Cinengah    11
System Teologi dan System Peribadahan     14
Tokoh Kelompok Santri    16
Paradigma dan Praktek …    17
Muludan    17
Shalat Jum’at dan Shalat Berjamaah    18
System Teologi Dan Idealisme    19
Ladang Gersang Yang Kutinggalkan        21
Nusa Kambangan Adalah Pesantren Trakhirnya    29
Datangnya Dua Orang PNS (Pegawai Negeri Sipil)    36
Sejarah Singkat Persatuan Ummat Islam (PUI)    48
Profil PPUI    49
Awal Kehadiran Pergerakan Pemuda PUI    58
Pembentukan Pngurus PPUI Cabang Gunung Halu    64
Pergerakan Kaum Muda    73

Potret Sukamanah Sebelum Tahun 1973

Potret Sukamanah Sebelum Tahun 1973

Meskipun masyarakat Gununghalu secara umum telah mengenal islam  sejak tahun 1863 berkat perantara seorang kiyai klasik yang dikenal dengan sebutan Mama Ilyas (1945) Cibitung . Akan tetapi, pemahaman masyarakat terhadap konsep ketuhanan masih bercampur dengan kebudayaan lokal yang diwariskan oleh karuhun, nenek moyang dan para leluhur mereka yang cenderung “animisme”.
Oleh karena itu, sangatlah perlu kiranya penulis terlebih dahulu memaparkan kondisi masyarakat Gununghalu secara umum sebelum sampai pada pembahasan inti daripada sejarah pergerakan dakwah di desa Sukamanah. Karena hal ini akan banyak memberikan gambaran mengenai latar belakang masyarakat baik dalam segi kehidupan sosial, budaya dan kepercayaannya. Selanjutnya, di bawah ini akan digambarkan bagaimana kondisi masyarakat Gunughalu sebelum tahun 1973.
1.    Kehidupan sosial

Pada masyarakat sunda ada kalimat pepatah yang masyhur “ka darat jadi salogak, ka cai jadi saleuwi” , hal ini diinterpretasikan sebagai simbol dari kehidupan masyarakat yang menjunjung budaya gotong royong. Rasa persaudaraan dan kekerabatan diantara masyarakat Gununghalu begitu erat sehingga potensi konflik diantara mereka sangat terbatas.

2.    Realita Spiritualitas Masyarkat

Sebagaimana telah dikatakan di atas, bahwa masyarakat Gunung-halu telah mengenal islam sejak pertengahan abad ke-19 . Namun saat itu persoalan ketauhidan belum begitu tertanam kokoh pada dan belum menjadi ideologi masyarakat, karena masih bercampur dengan paham lokal yang penuh dengan aroma mejik dan perbuhunan. Sehingga ada yang mengatakan bahwa pada zaman dulu pendidikan di pesantren-pesantren tidak begitu fokus terhadap pengkajian ilmu-ilmu agama. Sekalipun ada pengkajian ke-islam-an hanya terbatas pada  jampe-jampe  (do’a-do’a yang tidak berlandaskan hadits). Selain itu, para santri lebih fokus untuk mempelajari ilmu-ilmu kebatinan dan ilmu kanuragan.
Sehingga ekses daripada itu, pemahan masyarakat terhadap agama islam sangatlah dangkal serta penyaluran insting ketuhanan mereka masih samar dan belum begitu kuat memegang aqidah islam. Sehingga, pribadahan dan pemujaan bagi mereka masih memerlukan mediasi dan sarana yang berwujud benda. Dalam setiap momen yang berkaitan dengan spiritualitas, mereka masih belum yakin tanpa adanya wasilah yang bisa langsung berinteraksi dengan mereka sehingga, mereka masih mempertahankan praktek upacara-upacara trdisional, pembacaan jampe-jampe dan pemujaan pada benda pusaka dan perkakas keramat yang telah diwariskan oleh orang tua mereka.
Hal itu masih terus berkembang dalam budaya dan kehidupan masyarakat Sukamanah. Salah satu contohnya, ketika mereka ingin mengungkapkan rasa syukur kepada Allah Swt. mereka tidak akan merasa puas dengan ucapan basmallah saja kecuali dibarengi dengan ritual ngukus  serta harus melibatkan seseorang yang dianggap memiliki kemampuan berkomunikasi dengan jin. Hal ini dilakukan supaya syukuran dan do’a yang mereka panjatkan bisa sampaikepada-Nya berkat tawasul pada karuhun. Hal seperti itu dilakukan atas dasar kepercayaan yang bercampur antara pemahaman islam dengan budaya lokal yang telah diwariskan secara turun temurun.
Selain itu, sistem peribadahan yang mereka pahami saat itu tidak berlandaskan pada hukum islam secara utuh. Karena mereka tidak mengenal hukum-hukum islam secara komprehensif dan mendalam. Sehingga, persoalan halal dan haram saja tidak dipandang sebagai hal yang urgen dalam kehidupan beragama. Selain itu, paradigma yang tumbuh dalam kehidupan mereka adalah sebagai berikut;
Peribadahan merupakan hak individu. Oleh karena itu, tidak ada kewajiban untuk berdakwah bahkan sebagian di antara mereka be-ranggapan bahwa menghargai orang yang beribadah saja sudah menjadi sebuah amal kebaikan tanpa harus melaksanakan-nya secara langsung.
3.    Realitas Keberagamaan Masyarakat Sukamanah

Setelah digambarkan mengenai kondisi spiritual yang berkembang di Gununghalu, maka realitas keberagamaan pada masyarakat Sukamanah sebetulnya tidak begitu berbeda jauh, karena memang seperti itulah ranah spiritual yang berkembang saat itu. Hanya saja, di Sukamanah, khususnya di kampung Legok Ngenang dan kampung Karentil sebelum tahun 1973  masyarakat terbagi pada dua kelompok yaitu kelompok yang pertama adalah kelompok mejis dan yang kedua kelompok santri.
Kelompok mejis yang dimaksu adalah masyarakat yang masih memiliki paradigma bahwa budaya dan tradisi yang diwariskan oleh guru dan orang tua mereka tidak bertentangan dengan konsep teologi islam. Sehingga, mereka masih mencampuradukan antara keyakinan kepada Allah Swt. dengan upacar-upacara pemujaan terhadap karuhun.

a.    Tokoh Kelompok Mejis

Para tokoh kelompok ini adalah mereka yang hidup pada masa penjajahan dan pernah belajar di pesantren-pesantren klasik di berbagai tempat baik yang berada di bandung, sukabumi dan cianjur.
Pada tahun 1970, tokoh yang masih eksis dikelompok ini adalah Aki Irnapi dia tinggal di kampung Karentil Kidul, Aki Tamini bin Iyub meninggal pada tahun 1970-an setelah pulang dari tanah suci mekkah, dialah tokoh yang paling disegani diantara tokoh yang lainnya dan Aki Opo yang tinggal di kampung Legokngenang dia adalah orangtua Mama Dawami seorang kiyai yang sangat eks-trim terhadap kemusyrikan.

b.    Paradigma dan Praktek Tradisi Kelompok Mejis

Pada kelompok mejistis, paradigma ketuhanannya masih persis sama dengan paradigma yang tumbuh pada masyarakat gununghalu secara umum. Akan tetapi, pada sisi praktek tradisinya mereka memiliki beberapa ritual kebudayaan yang dicampur dengan hukum-hukum agama. Adapun ritual-ritual tersebut diantarnya adalah sebagai berikut:

    Sidekah Ngamuludkeun

Setiap bulan mulud (bulan rabiul awal H), yang bertepatan dengan kelahiran nabi Muhammad Saw. Masyarakat sukamanah yang masih percaya pada hal-hal mejik dan tahayul, selalu memperingati muludan ini dengan ritual ngamuludkeun. Suatu tradisi yang diwariskan secara turun-temurun untuk mengagungkan benda-benda keramat seperti keris, balera, batu merah delima, buli-buli pedang dan lain sebagainya. Upacara ini menurut anggapan mereka adalah untuk bertawasul kepada nabi Muhammad Saw.
Akan tetapi, pada dasarnya yang mereka agungkan itu adalah para karuhun dan guru-guru yang telah mewariskan benda pusaka dan ilmu kanuragan kepada mereka. Selain itu tujuan dari upacara ngamuludken adalah untuk mengawetkan kekuatan mistis yang ada pada benda-benda pusaka yang mereka pelihara.

    Ngabengkat

Ngabengkat adalah suatu upacara yang dilakukan hulu air sungai. Upacara atau yang dikenal dengan hajat dilakukan setahun sekali dan dipimpin oleh ulu-ulu (oarng yang bisa memanjatkan jampe atau do’a), adapun maksud dari pelaksanaan upacara ini bertujuan untuk mempersembahkan sesajen kepada karuhun penunggu hulu air sungai tersebut agar dia senantiyasa menjaga kesuburan air sungai tersebut.

    Ngaruat Bumi

Salah satu traidisi yang mengandung unsur kesyirikan pada masyarakat sukamanah adalah tradisi ngaruat bumi. Upacara ini dilatarbelakangi oleh keinginan untuk menyatakan rasa syukur seseorang karena akan membuat sebuah rumah yang baru. Keyakinan mereka upacara ini merupakan sebagian dari syariat agama karena doa-doa yang diucapkan diambil dari al-qur’an. Akan tetapi, sekalipun doa yang dipanjatkan adalah ayat al-qur’an namun, mereka tidak memahami akan makna dari ayat tersebut. Dan praktek kesyirikannya terletak pada cara penyembelihan hewan yang bukan atas nama Allah dan dipersembahkan kepada karuhun.

    Mapag Sri/Metemeyan

Upacara metemeyan adalah upacara yang dilakukan dalam rangka mensyukuri keberhasilan dari pertanian. Seperti halnya upacara-upacara tradisional lainnya, metemeyan dilakukan untuk mempersembahkan sesajen untuk karuhun dan roh leluhur yang dianggap setia menunggu padi mereka.
Dalam pelaksanaan metemeyan ada seseorang yang diper-cayakan untuk memanjatkan do’a sambil membakar kemenyan (ngukus) dibawah gubuk yang sengaja dibuat ditengah pesawahan (rarakaan) sebagai tempat untuk menyimpan sesajen. 
Sebelum pemilik sawah memanen padinya, orang yang memanjatkan do’a dululah yang dipersilahkan untuk memetik padi terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan agar padi yang dipenen membawa keberkahan bagi pemilik padi tersebut.
    gadiukeun pare (pasca)

Setelah panen dan padi dikeringkan, upacara selanjutnya adalah upacara ngadiukeun pare. Masyarakat punya kepercayaan bahwa sebelum padi dimasukan ke lumbung padi maka orang yang telah memanjatkan do’a pada upaca metemeyan harus terlebih dahulu makan nasi dari hasil padi musim itu. Kalau tidak maka padi tersebut tidak akan berkah. Setelah itu barulah padi yang sudah kering diikat rapi untuk kemudian dimasukan ke lumbung.

    Tempat Pemujaan Bukit Cinengah

Pada tahun 1970, keadaan kampung Karentil dan Legok Ngenang masih perkampungan kecil, tidak terlalu banyak rumah yang berada di sana hanya pohon-pohon besar dan belukar yang yang tumbuh di sekitar perkampungan sehingga, suasana di kedua kampung ini sangat sepi.  Pada masa penjajahan belanda dan pemberontakan dari tentara gerombolan yang bergriliya, kampung ini adalah tempat yang dijadikan sebagai persembunyian.
Diantara kampung Legok Ngenang dan Kampung Karentil ada sebuah lembah yang menyatukan kedua kampung tersebut. Di lembah inilah pusat kemusyrikan yang saat itu masih dijadikan sebagai tempat pajaratan.
Oleh karena itu selain dari praktek upacara tradisional yang mengandung unsur kesyirikan, terdapat pula tempat kemusyrikan yang nyata seperti pertapaan dan pemujaan untuk meraih kekayaan atau kekebalan tubuh.
    Sebagian dari masyarakat disana mempercayai bahwa di logok tersebut terdapat sebuah pancoran mas dan barang siapa yang secara kebetulan melihat pancoran tersebut maka harus segera mandi di air pancoran tersebut, agar kemudian apabila setelah mandi dia mengutarakan keinginannya seperti kekuatan atau kekayaan maka permintaannya akan terkabulkan.
    Penunggu atau kuncen pajaratan Legok Cinengah tersebut adalah seorang sesepuh yang dikenal dengan aki Opo  yang mana dia adalah bapak seorang kiyai yang sangat membenci praktek-praktek kemusyrikan yaitu Mama dawami. Meski sebagian masyarakat sudah mulai menyadari bahwa praktek kemusyrikan tidak dibenarkan dalam islam akan tetapi, Aki Opo masih setia mempertahankan tempat tersebut karena sampai saat itu masih banyak pengunjung dari luar daerah seperti Cianjur, garut, Tasik dan lain sebagainya yang datang meminta bantuan kepada Aki Opo agar diberikan petunjuk jalan menuju lembah tersebut dan meminta keterangan tentang etika dan cara-cara untuk melakukan semedi atau bertapa di legok tersebut.
    Konon sebelum adanya gerakan penghancuran pemahaman dan media kemusyrikan yang dilakukan oleh Mama Dawami, di Legok Cinegnah terdapat sebuah bukit kecil yang biasanya dijadikan sebagai tempat pemujaan dan pertapaan. Di tengah-tengah bukit tersebut ada sebuah pohon besar yang tumbuh diatas batu besar tempat penyimpanan sesajen. Sampai saat ini bukit tersebut masih kelihatan seperti sedia kal akan tetapi, tempat-tempat pemujaannya seperti pohon besar dan batu yang berada di atas bukit tersebut sudah sirna setelah Mama Dawami melakukan gerakan penghancuran media kemusyrikan di tempat tersebut.
    System Teologi dan System Peribadahan Kelompok Mejis

Ketika memperhatikan tradisi yang masih mereka pertahankan, yaiut dengan mencampuradukkan antara keyakinan kepada Allah dengan kepercayaan mereka kepada hal-hal yang tahayul, maka dapat kita amati bahwa sistem teologi yang merka pegang belum begitu utuh.
Mereka meyakini akan ke-Maha Esan Allah. Akan tetapi, disisi lain mereka juga berkeyakinan bahwa Allah itu Maha Ghaib sementara manusia adalah makhluk nyata jadi, tidak mungkin manusia bisa meminta kepada Allah secara langsung. Oleh karena itu, mereka beranggapan bahwa manusia memerlukan perantara (wasilah) untuk menyampaikan permintaannya kepada Allah, dan salah satu yang bisa dijadikan sebagai wasilah adalah karuhun, para wali dan jin.
Selain itu, diantara mereka ada yang masih memelihara benda pusaka yang dianggap memiliki kekuatan mejik dan mereka meyakini bahwa pada hakikatnya kekuatan yang tersimpan dalam benda-benda pusaka itu berasal dari Allah. Akan tetapi sebetulnya mereka lebih mengagungkan benda pusakanya dari pada beribadah kepada Allah Swt.
 Sistem kepercayaan seperti itu sangat berpengaruh terhadap sistem peribadahan yang berkembang di kelompok masyarakat mejis. Sehingga peribadahan yang mereka lakukan tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh islam.
Banyak sekali bentuk peribadahan mereka yang bertentangan dengan ajaran islam, salah satunya adalah puasa yang mereka anggap sebagai bentuk ibadah tetapi dengan cara yang tidak pernah diajarkan oleh islam. Puasa yang mereka lakukan adalah puaa yang dilakukan selama tujuh hari bahkan sampai satu bulan tanpa makan dan minum dan harus diam di atas atap rumah selama pelaksanaan puasa tersebut.
Sebagian dari kelompok ini sebetulnya sudah memiliki kesadaran untuk beribadah. Akan tetapi ada satu hal yang menjadi inti permasalahannya seingga mereka enggan untuk me-lepaskan kepercayaannya terhadap hal-hal yang tahayul. Per-masalahan mereka sebetulnya hanya terletak pada kedangkalan ilmu yang tidak mereka dalami, sehingga niat dan praktek beribadahnya menjadi salah sasaran.
Setelah kehadiran Mama Damawami sebagai tokoh pemberantas kemusyrikan di Desa Sukamanah (1950) , paradig-ma masyarakat sudah mulai mengalami pencerahan. Meskipun masih banyak orang yang meragukan terhadap pemahaman yang diajarkan oleh mama akan tetapi, praktek-praktek kesyirikan sudah mulai terkikis. Sekalipun ada yang masih memprak-tekannya tapi itu dilakukan hanya oleh individu saja.

c.    Tokoh Kelompok Santri

Yang menjadi tokoh kelompok santri ini diantaranya adalah Mama Dawami bin Opo (1969), Aki Eman bin Opo (1990), Aki Wirta bin Sukla (1970), Ajengan Bullah (2001), Mama Djunaendi dan lain sebagainya.
Mereka merupakan orang-orang yang sangat ekstrim ter-hadap segala bentuk kesyirikan. Sehingga, mereka selalu berusaha menghancurkan pemahaman dan tempat-tempat kemusyrikan yang ada.

d.    Paradigma dan Praktek Keberagamaan Kelompok Santri

    Muludan

Pada kelompok santri, pelaksanaan muludan hanya sebatas memperingati kelahiran Nabi Muhammad Saw. saja tanpa ada sesuatu yang di anggap luar biasa pada bulan tersebut. Pelaksanaan muludan hanya dengan mengadakan pengajian di mesjid dan membuat nasi tumpeng. Kelompok ini sudah mulai memahami tentang tauhid sehingga mereka tidak memlihara atau memandikan benda-benda pusaka pada saat pelaksanaan muludan.

    Shalat Jum’at dan Shalat Berjamaah

Sampai pada awal tahun 1973, masyarakat yang datang ke-mesjid untuk melaksanakan shalat jum’at masih jarang karena kebanyakan dari mereka beranggapan bahwa ibadah hanya sebagai simbol orang yang lembut dan taat. Sehingga, menurut mpemahan mereka menghargai orang yang beribadah saja sudah termasuk suatu kebaikan. Oleh karena itu ketika datang waktu shalat jumat hanya sedikit sekali orang yang datang ke mesjid untuk  melaksanakan shalat jum’at.
Masyarakat yang sudah menyadari tentang urgensi peribadahan tidak berani meninggalkan shalat jum’at. Bahkan merekapun selalu melaksanakan shalat maghrib dengan berjama’ah sekalipun jumlah mereka tidak lebih dari lima orang. Masyarakat yang sudah sedikit mengerti tentang arti islam ini adalah orang-orang yang memiliki loyalitas dengan Mama Dawami.
Meskipun mereka berada ditengah kehidupan masyarakat yang masih memiliki paradigma salah tentang islam namun, masyarakat santri pada waktu itu senantiyasa melakukan pengajian yang setiap selesai shalat maghrib sampai datang waktu isya. Pengajian yang dilakukan adalah tadarusan, menghapal 20 sifat wajib bagi Allah dan menghapal ayat-ayat tauhid. Semua ini merupakan salah satu program dakwah yang dilakukan oleh Mama Dawami    agar keyakinan masyarakat bisa terus terjaga dari pemahaman-pemahaman yang dulu mereka pegang.

e.    System Teologi Dan Idealisme

Pemahaman masyarakat terhadap tauhid sudah mulai tertanam meski masih terbatas pada 20 sifat wajib bagi Allah. 20 sifat wajib bagi Allah ini selalu di ajarkan dalam setiap pengajian, sehingga mereka meyakini bahwa Allah-lah yang patut disemabah dan segala bentuk pemujaan selain kepada-Nya adalah musyrik akbar.
Namun pada sebagian masyarakt, meski mereka berada di tengah kegersangan aqidah masyarakat pada saat itu, ada yang memegang idealism dan prinsip yang kuat, sehingga mereka berpandangan bahwa system kehidupan yang harus diterpkan dari mulai tatanan kemasyarakat bawah sampai Undang-undang Negara harus sesuai dengan hukum islam. Mayarakat yang memiliki prinsip seperti itu adalah mereka yang pernah terlibat gerakan DI TII pimpinan Karto Suwiryo yang selamat dari gerakan PAGAR BETIS.

Ladang Gersang Yang Kutinggalkan

Ladang Gersang Yang Kutinggalkan

Ditengah kegersangan aqidah masyarakat sukamanah yang masih nencampuradukan antara tradisi dan agama, keyakinan kepada Allah dengan kepercayaan pada tahayul dan perbuhunan, peribadahan dan pemujaan terhadap benda pusaka dan tempat pejaratan. pada tahun 1949 yang bertepatan dengan tahun meledaknya peperangan antara tentara Republik Indonesia dengan tentara DI TII yang dipimpin oleh Karto Suwiryo. Mama Dawami yang selama beberapa tahun berkelana sambil mendalami ilmu agama islam pulang ke kampung halamannya yang berada di legok ngenang. Beliau hadir dengan semangat pergerakannya untuk mendakwahkan tauhid dan memberantas kesyirikan.
Langkah pertama yang beliau lakukan adalah mendekati masyarakat setempat dengan mendatanginya ke rumah mereka masing-masing, hal ini beliau lakukan bertujuan agar masyarakat menerima kehadirannya sebagai seorang da’I yang akan mendakwahkan tauhid.
Selain itu, beliau juga mendirikan sekolah agama bagi anak-anak yang masih belum diwarisi tradisi local oleh orang tua mereka. Langkah ini adalah langkah kaderisasi dan penanaman ketauhidan pada generasi masyarakat yang akan datang agar memiliki pemahaman yang mendalam mengenai islam. Di sekolah agama ini beliau hanya memberikan pelajara tentang tauhid dan 20 sifat wajib bagi Allah, mengarahkan anak-anak agar memiliki keyakinan bahwa tidak ada lagi dzat yang lebih hebat dari pada Allah Swt.
Meski dengan segala keterbatasan baik dari segi sarana, tenaga dan dukungan masyarakat akan tetapi, Mama terus melakukan pendidikan ini di samping beliau juga harus menafkahi keluarganya, beliau selalu menyempatkan diri untuk mengajar di madrasah. Sekolah ini dipusatkan di kampung Nyangigir sebelah utara kampung legok Ngenang, dengan alas an agar masyarakat nyangigir juga bisa tersentuh oleh pemahaman islam yang beliau ajarkan.
Mama dawami merupakan salah satu dari dua orang da’I yang dianggap sebagai sesepuh di tiga kampung (legok Ngenang, Karentil dan kampung Nyangigir). Aki Eman, adik Mama sendiri juga ikut terlibat dalam pemberatasan kemusyrikan di kampung tersebut, hanya saja Mama dawami lebih keras dalam mendakwahkan tauhid.
Selain Aki Eman, beliau juga memiliki partner dakwah yang sama-sama memiliki pemahaman bahwa kemusyrikan merupakan perbuatan yang wajib diberantas sampai keakar-akarnya. Partner Mama ini bergerak di kampung lain yang masih termasuk desa cinengah (sebelum pemekaran desa). Mereka itu di antaranya adalah, Ajengan Bullah yang bergerak di kampung Lebakmuncang, Ajengan Arsudin (Mama DJunaedi) bergerak di Kampung Cikupa, Ajengan Shalihin (Pak Omo) bergerak di-kampung Lampegan dan Ajengan Atori sebagai da’I di Kampung Genggong .
Tidak ditemukan data secara pasti apakah kesemua da’I ini mempunyai keterkaitan latar pendidikan yang sama atau tidak, akan tetapi mereka sama-sama bergerak memberantas praktek kemusy-rikan secara total. Selain itu, mereka juga memiliki program dakwah terpadu yang digarap bersama yaitu, program pengajian mingguan yang dipusatkan di kampung Cimenteng, Desa Bunijaya, Kecamatan Gunung-halu. Mereka mengumpulkan semua murid dari kampung masing-masing.  Adapun materi yang disampaikan dalam pengajian tersebut tidak jauh berbeda dengan apa yang mereka ajarkan di tempatnya masing-masing akan tetapi, selain dari materi tentang 20 sifat wajib bagi Allah, masyarakat juga di beri kesadaran bahwa setiap muslim adalah bersaudara sehingga persaudaraan diantara mereka tidak dibatasi dengan kaitan nashab melainkan dibatasi oleh agama yaiut islam.
Pada waktu Mama melaksanakan dakwah terhadap masya-rakat sukamanah, hubungan beliau dengan ayahnya, Aki Opo kurang begitu harmois. Mama yang sangat keras menentang dan memberantas kemusyrikan sementara ayahnya adalah seorang kuncen yang me-melihara kebersihan dan kelestarian tempat pemujaan orang-orang yang ingin mendapatkan kekayaan di legok Cinengah. Aki opo selalu membersihkan batu yang berada diatas bukit kecil legok Cinengah, tetapi secara diam-diam Mama Dawami  merusak dan menghan-curkan segala fasilitas yang ada di tempat pemujaan tersebut smpai akhirnya tempat tersebut tidak lagi dijadikan sebagai tempat memuja.
Selain dari aksi-aksi seperti itu Mama juga sebagai seorang kepala keluarga yang sangat bertanggungjawab atas keluarganya. Setiap pagi dia selalu berangkat kekebun garapannya yang menjadi andalan untuk menghidupi keluarganya. Mama terkenal dengan kegigihannya dalam berdakwah segingga sudah menjadi kebiasaan sepulangnya dari kebun dia selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah warga yang beliau anggap masih memiliki kepercayaan terhadap perkara tahaul. Dengan alasan numpang untuk melaksanakan shalat dzuhur beliau selalu sengaja membuka bakwah dengan cara berkunjung rumah-kerumah baik yang berada di kampung tempat kediamannya maupun kampung lain yang berada di sekitar sukamanah. Dengan cara ini beliau memilih cara yang tepat karena beliau bisa dengan bebas menerangkan kepada orang yang beliau kunjungi tentang tauhid dan dosa-dosa syirik.
Gaya berdakwah seperti ini memang menjadi salah satu kelebihannya sehingga tidak sedikit masyarakat yang merasa tertarik mengikuti apa yang telah ia ajarkan karena sekalipun beliau selalu keras dan terang-terangan menyatakan tentang dosa syirik di depan masyarakat yang masih memelihara benda-benda pusaka. Namun beliau bersikap sangat lembut dan penuh kharismatik dalam menjalin hubungan dengan masyarakat shingga, seorangpun tidak ada yang berani menentang kepadanya.
Ketika beliau mendengar seorang muridnya yang masih menyimpan benda keramat, beliau akan secara gamblang me-nyatakan hal itu dalam setiap pengajian, sehingga seolah tidak mem-perhatikan perasaan orang tersebut karen beliau memiliki prinsip bahwa hukum Allah tidak bisa disembunyi-sembunyi, jika itu salah maka harus dinyatakan salah (baligul haq walau kana murran,,, ‘alhadits’). akan tetapi, setelah beliau menerangkan secara gambling beliau selalu langsung menemui orang yang dimaksud memiliki benda pusaka tersebut dengan maksud agar orang itu lebih paham terhadap apa yang telah beliau sampaikan di pengajian.
Pergerakan dakwah Mama yang tegas seperti itu terus ber-langsung sampai pada pertengahan tahun 1950, dimana masih banyak tugas yang harus Mama tuntaskan berkaitan dengan kemus-yrikan yang waktu itu masih marak dipraktekan oleh sebagian masyarakat sukamanah.
Sekalipun sudah ada orang yang memahami tentang dosa syirik, akan tetapi medan dakwah yang beliau garap masih seperti ladang yang gersang. Karena disisi lain masyarakat juga belum memahami betul bagaimana cara beribadah yang benar, masih banyak yang belum bisa membaca al-qur’an apa lagi mengambil makna dari isi ayat-ayaat al-quran. Namun, disaat kondisi masyarakat masih seperti itu pergerkan Mama beserta rekan-rekannya yang lain harus berhenti sampai disana karena segala aktifitas para aktifis dakwah itu dijegal oleh pemerintah yang terterea dalam Keppres 200/1960  dengan alasan pergerakan mama dianggap sebagai program kaderisasi islam ideologis seperti yang dipimpin oleh karto suwityo, yang dianggap sebagai pem-berontak Negara waktu itu.
Oleh karena aktifitas mama dianggap sebagai aksi yang sangat membahayakan stabilitas keamanan Negara. Ber-tepatan dengan penangkapan para tokoh Masyumi dan aktifis islam yang lain yang terlibat dalam PRRI, mama beserta semua rekan-rekanya pun ditangkap dan dipenjarakan. Sehingga masyarakat yang beliau didik harus ia tinggalkan dalam kondisi idealismenya yang masih meng-hawatirkan. Namun, saat beliau harus meninggalkan masyarakat, Pak Omo merasa sangat menyayangkan kondisi itu sehingga akhirnya beliau menggantikan peran mama dalam hal mengjari anak-anak di sekolah agama yang digarap Mama sebelumnya.
Semua aktifitas dakwah setelah penangkan mama harus berhenti. Hanya Pendidikan agama pada anak-anak yang masih biasa dilan-jutkan meski pada akhirnya pun harus diberhentikan juga dengan alasan yang sama.

Nusa Kambangan Adalah Pesantren Trakhirnya

Nusa Kambangan Adalah Pesantren Trakhirnya

Setelah Mama Dawami dan rekan-rekannya ditangkap, beberapa hari kemudian mama dipenjarakan di Nusa Kambangan. Dalam derita siksaan dan hinaan yang dterima mama dari para pengekor Presiden Soeharto, Mama diper-temukan dengan seseorang yang memiliki pemahaman sama dengan beliau akan tetapi orang tersebut memiliki pengetahuan agama yang lebih luas dari pada mama. Sehingga selama berada di dalam penjaranya Mama sering melakukan diskusi seputar pemahaman islam dengan orang tersebut.
Pada awalnya mama memiliki pemahaman ahlussunnah wal-jama’ah sementara orang yang dimaksud diatas memiliki pema-haman kelompok qur’an sunnah. Akan tetapi, semakin sering Mama berdiskusi dengan orang itu semakin banyak pula pemahaman mama yang mulai berubah karena terpengeruhi oleh pemahaman qur’an sunnah. Sekalipun mama memiliki prinsip yang kuat tentang tauhid akan tetapi mama belum mengenal lebih jauh mengenai praktek-praktek bid’ah dan khurafat sehingga mama merasa masih banyak ilmu agama yang ia pelajari.
Akhirnya, setelah Mama menerima konsep pemahaman qur’an sunnah yang menitik beratkan pada pemberantasan syirik, tahayul, bida’ah dan khurafat. Mama banyak belajar dari orang yang ia kenal di penjara itu yang kemudian beliau menganggapnya sebagai guru.
Setelah mama belajar dan banyak berdiskusi dengan orang itu, maka mama memiliki sebuah pemahaman yang lebih jauh dia tidak hanya ekstrim terhadap praktek-praktek kemusyrikan akan tetapi, beliau juga menganggap bahwa masih begitu banyak kesalahan beragama dalam pemahaman mayarakat kampungnya karena selain kemusyrikan beliau juga harus meluruskan pemahaman supaya terlepas dari kebida’ahan, khurafat dan tahayul.
Mama mendekam di Nusa Kambangan sejak tahun 1950 dan bebas pada beberapa tahun berikutnya, selama ia dipenjarakan meski hidup dalam penyiksaan dan penindasan tetapi beliau masih punya semangat belajar yang tinggi sehingga, di temapt seperti itupun belaiau masih sempat belajar. Di Nusa Kambangan inilah belaiu menganggap sebagai pesantren terakhirnya.
Pada akhir tahun 1952, beliau dibebaskan dan kembali pulang ke kampung halamannya untuk kembali mengajarkan islam kepada masyarakat sukamanah yang dulu ia tinggalkan. Setelah mama berada di kampung halamannya mama kembali bergerak sebagaimana dulu ia lakukan. Akan tetapi, pergerakan mama di jilid kedua ini banyak perbedaan dari sebelumnya, beliau lebih tegas terhadap kemusyrikan serta pemahaman yang beliau ajarkan juga sangat berbeda dengan pemahaman yang dullu beliau ajarkan. Beliau tidak hanya melarang praktek kemusyrikan tapi sebagian dari apa yang dulu beliau anggap sebagai bagian dari pribadahan seperti tahlilan dan marhaban menjadi objek yang ia berantas.
Pemahaman seperti ini mengundang banyak penentangan baik dari masyarakat yang dulunya menentang mama maupun dari para muridnya sendiri, karen waktu itu, masyarakat menganggap mama membawa pemahaman aliran baru. Bukan hanya penentangan secara argumentasi melainkan beliau dijauhi oleh masyarakat, apa lagi oleh ayahnya yang saat itu masih menjadi kuncen Legok Ngenang.
Kondisi mama saat itu sangatlah sempit karena bukan hanya muridnya yang menentang rekan-rekan seperjuangannya pun berbeda pendapat dengan beliau. Akan tetapi kondisi ini tidak meru-bah pendirian mama, beliau tetap saja sebagai seorang yang sangat teguh mempertahankan prinsipnya. Apa yang dulu beliau lakukan dalam berdakwah kembali beliau lakukan mulai dari pengajian, kunjungan, ke rumah-rumah masyarakat dan mendidik anak-anak di sekolah agama.
 Meski dalam situasi dan kondisi seperti itu, usaha mama dalam mengajarkan pemahaman qur’an sunnah terus saja belaiu lakukan dengan tidak mengenal lelah. Setelah shalat subuh beliau mendatangi rumah masyarakat meskipun mama tahu oang itu tidak suka terhadap beliau tapi dia tetap melakukan pendekatan secara intensif. Kemudian setelah belliau berkunjung, beliau bersiap-siap untuk pergi kekebunnya dan sepulangnya beliau selalu menyem-patkan diri untuk mampir ketempat seseorang yang beliau kendaki tujuannya hanya untuk mengajarkan pemahaman quran sunnah. Seteh itu pada sore harinya beliau mengajar anak-anak disekolah agamanya. Setelah selesai beliau langsung ke mesjid untuk bersiap-siap melakukan shalat magrib dan dilanjutkan dengan pengajian yang diikuti oleh murid-muridnya. Seperti itulah kebiasaan mama sehari-hari sehingga, semua orang tahu bahwa beliau merupakan orang yang memiki semangat dakwah yang luar biasa, selain itu beliau terkenang dengan sikapnya yang lemah lembut tapi keras dalam berdakwah.
Perjuangan Mama terus dilakukan, meski tidak banyak orang yang mau menerima kehadirannya dengan pemahaman yang berbeda dengan pemahaman yang mereka pegang. Namun akhirnya sedikit-sedikit masyrakat yang sering mama datangi menerima pemahaman tentang qur’an sunnah, orang yang pertama menerima pemahamn itu adalah adiknya sendiri yaitu Aki Eman, Hair (mebapak penulis sendiri) dan adiknya Oid. Orang-orang inilah yang pertama kali meneremima pemahaman quran sunnah yang diajarkan oleh mama setelah beliau bebas dari penjara Nusa Kambangan.
 Segala aktifitas yang mama lakukan dalam rangka dakwa bertahan sampai akhir hayatnya. Pada tahun 1973, di sore harinya mama  seperti biasa mengajar anak-anak di madrasah yang berada di kampung Nyangigir, sepulang mengajar ketika beliau melewati pesawahan belaiu terjatuh dan tidak sadarkan diri dan setelah beliau di bawa kerumahnya tidak lama kemudian beliau menghembuskan nafas terkhirnya di petang hari menjelang adzan magrib.
pergerakan mama ternyata telah membuahkan hasil yang saat itu belum terlihat secara nyata, meski masih banyak orang yang belum paham dan banyak sekali hal-hal yang harus diperbaiki dalam keberagamaan masyarakat namun, setelah mama wafat dan hadirnya suatu pergerakan baru dari kalangan intelek telah memiliki wadah di masyarkat sukamanah, pemahaman yang diajarkan mama menjadi sebuah dasar yang sangat membantu dalam pergerakan dakwah yang datang selanjutnya.

Datangnya Dua Orang PNS
(Pegawai Negeri Sipil)

Datangnya Dua Orang PNS
(Pegawai Negeri Sipil)

Sebelum mama meninggal dunia, di awal tahun 1969, ada dua orang Pegawai Negeri Sipil yang ditugaskan sebagai tenaga pengajar di SDN Cinengah-I, mereka adalah Didin dan Isa Yusman. Keduanya merupakan aktifis islam dari kalangan intelek. Mereka berdua me-miliki pemahaman yang sama seperti yang diajarkan oleh mama, hanya saja Didin  an Isa Yusman memiliki kelebihan dalam segi wawa-san yang lebih akademis dan memiliki pemikiran yang kritis terhadap pemerintahan.
Selain dari profesinya sebagai seorang pengajar, mereka juga aktif dalam melakukan perubahan paradigma masyarakat yang masih tradisional ke-arah yang lebih modern, menumbuhkan kesadaran akan arti penting pendidikan dan mereka juga mengajarkan sebuah sikap kritis terhadap polotik yang sedang berjalan saat itu.
Sebelum mama dawami meninggal sebetulnya kedua orang ini sudah mulai bergerak dalam dakwah akan tetapi, tidak begitu persis dengan apa yang mama laksanakan waktu itu. mereka memulai langkahnya dari pendekatan terhadap orang tua murid-muridnya. Sehingga mereka tidak mencerminkan sebagai seorang da’I. dimata masyarakat waktu itu, didin dan Isa yusman hanya sebatas guru baru yang ingin memberikan jalan kepada mereka yang siap menyekolahkan anaknya ke jenjang seterusnya.
Pada awal pergerakannya, Isa Yusman mencoba mendatangi orangtua muridnya yang sedang duduk di kelas VI SD, dengan maksud memberikan arahan agar anak-anaknya disekolahkan ke-sekolah lanjutan, yang berbasis pesantren.
Didin dan Isa terus berusaha mendekati para orang tua dan membujuk mereka agar mereka menyatakan siap menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang seterusnya. Dan setelah mereka akrab dengan orang tua murid-muridnya, mereka berdua mulai mengajak masyarakat untuk mengadakan pengajian dengan mendatangkan nara sumber dari luar daerah, selain itu isa Juga menawarkan untuk menyelenggarakan training dan pelatihan keorganisasian.
Usaha mendekati dan mempengaruhi masyarakat untuk siap menyekolahkan anaknya dan mengadakan pengajian-pengajian terus mereka lakukan, meski kebanyakan dari orang tua saat itu menolaknya dan bahkan menuduh akan menyebarkan pemahaman sesat.
Beberapa waktu setelah kehadiran dua orang pegawai negeri sipil ini, masyrakat sukamanah mulai menyadari akan penting sebuah pendidikan lanjutan. Padahal, sebelumnya mereka berpandangan bahwa pendidikan dasarpun sudah dianggap cukup.
Kehadiran Didin dan Isa merupakan sebuah pencerahan in-telektual masyarakat yang sebelumnya kental dengan nuansa mejik dan ilmu kebatinan. Meski hanya sebagian orang saja yang menyambut kehadiran mereka sebagai da’I akan tapi pergerakan mereka cukup memberikan pengaruh terhadap perkemabangan masyarakat baik dalam segi pendidikan, organisasi maupun pemahaman beragama.
Setelah mereka banyak mengenal dekat terhadap orang tua murid-muridnya, barulah mereka mengadakan sebuah training keorganisasian yang sebetulnya mereka memiliki missi sebagai berikut; pertama, memberikan pemahaman tentang islam terhadap masyarakat dengan cara yang lebih halus dan rasional sehingga meminimalisir penetangan dari masyarakat. Kedua, training organisasi ini merupakan sebuah program yang tidak terlalu mencerminkan pembinaan islam yang saat itu sangat di awasi oleh pemerintah, sekalipun beberpa waktu kemudian pemerintah mengetahui bahwa training ini adalah pembinaan keislaman. Ketiga, sebagai bentuk usaha untuk membuat sebuah komunitas yang bisa mengembangkan diri dalam segi pendidikan.
Pergerakan dakwah yang mereka jalankan cukup berhasil, sekalipun masih banyak masyarakat yang menganggap kedua orang ini adalah pemabawa pemahamn baru yang akan merusak pemahaman masyarakat sukamanah. Sehingga banyak diantara rekan-rekan perjuangan mama yang tidak ikut bergabung dengan Pak didin dan Isa yusnman. Keberhasilan dua orang ini terbukti dengan banyaknya putra sukamanah yang disekolahkan ke beberapa tempat yang ada di bandung dan di jkarta.
Pada akhir tahun ajaran 1970 pak Isa Yusman menemui Bapak Hair untuk meminta agar dia mau menyekolahkan anaknya kesebuah pesantren persatuan islam yang berada di bandung tengah. Karena Pak Isa Yusman terlalu sering menemui Pak Hair untuk urusan itu, Sehingga Pak  Hair pun memenuhi tawaran Beliau, akhirnya waktu itu  Ust. Apip disekolahkan di pesantren Persatuan Islam Bandung No 01 beserta anak-anak lain yang sudah lebih dulu diberangkatkan yaitu diantaranya adalah, Ust. Awan Setiawan DS (pimpinan pusat MUI Bandung Barat priode 2009-2013), Ust. Jaenuddin, Ust. Dudun Syamsu Rijal dan lain sbagainya.
Selain itu beliau juga menyekolahkan anak-anak lain ke atnjung priuk untuk dibina dan didik disana salah satu diantara mereka yang diberangkatkan ke Pesantre Persatuan Islam Tanjung Priuk adalah, Ust. Ma’mun, Ust. Ade Purnama (salah satu pimpinan pusat Partai Keadilan Keadilan Sejahtera), Ust. Ruslan, dan lain sebagainya. Adapun maksud penyekolahan anak-anak yang ada di sukamanah pada waktu itu adalah sebagai langkah awal dari program kaderisasi masyarakat dan tujuan mereka ini terbukti sangat berhasil, sehingga sampai sekarang pun semua orang yang pernah beliau didik semuanya menjadi tokoh dan aktifis dakwah, baik yang berada di daerahnya sendiri maupun di tempat-tempat lain.
Sementara itu, beliau juga terus melakukan pembinaan kepada seluruh masyarakat yang berada di Sukamanah. Berbagai pengajian, penyuluhan dan training keorganisasian semakin gencar dilakukan oleh mereka meski secara sembunyi-sembunyi. Mereka berkeinginan agar nanti ketika anak-anak yang diberangkatkan ke berbagai pesantren telah menyelesaikan pendidikannya dan pulang kedaerah msing-masing maka para orang tua ppun sduah siap untuk menerima ke-hadiran mereka sebagai penggerak sekaligus guru bagi masyarakat Sukamanah.
Ketika Didin dan Isa Yusman bergerak mencerdaskan masyarakat, berbagai tudingan dan sorotan dari pemerintah desa waktu sangatlah ekstrim sehingga banyak sekali kasus yang sengaja dibuat-buat untuk menyingkirkan mereka berdua.
Sebelum tahun 1979, Sukamanah masih menjadi bagian dari desa Cinengah. Saat itu jabatan kepala desa sedang dipegang oleh Junaeni seorang kepala desa yang setia pada pemerintahan Orde Baru, junaeni sangat hati-hati terhadap segala aktifitas yang dilakukan oleh Didin dan Isa Yusman. Sehingga junaeni sering menugaskan intelijen dalam setiap program yang dijalankan oleh mereka berdua.
Isa maupun Didin sering mendapatkan panggilan dari kepala desa untuk dimintai keterangan tentang segala program yang mereka laksanakan. Namun, sedikitpun tidak pernah terbukti kalau mereka sedang merencanakan sebuah pemberontakan sebagaimana yang mereka isyukan. Pemerintah desa saat itu menaruh kecurigaan terhadap Didin dan Isa Yusman dengan alasan mereka menyebarkan pemahaman sesat dan sedang merencanakan pemberontakan ke-pada pemerintahan. Semua tuduhan itu mereka dasarkan atas tiga hal, yaitu: pertama Isa Yusman dan Didin adalah pendatang di desa Cinengah, kedua, mereka sering terdengar menyelenggarakan pembinaan atau pengajian keislaman sementara waktu itu Presiden soeharto sedang membatasi pergerakan-pergerakan semacam itu, ketiga, Isa Yusman, Didin berikut masyarakat yang mereka bombing tidak pernah datang ke temapat pemilihan umum sehingga mereka dikatakan sebagai penentang asas tunggal pancasila.
Padahal, sebetulnya segal sesuatu yang mereka permasalahkan itu memiliki alasan-alasan yang logis dan tidak bertentangan dengan undang-undang. Alasan pertama, Didin dan Isa Yusman sebagai pendatang tapi alasan kedatangan mereka adalah tugas Negara yaitu sebagai tenaga pengajar di SDN Cinengah I. alasan kedua, segala program yang mereka laksanakan merupakan suatu usaha untuk menyelamatkan masyarakat yang tertinggal dalam segi pendidikan dan intelektual, dan kebetulan mereka waktu itu sedang berperan sebagai guru maka mereka mengenal masyarakat dengan alasan,  agar para wali murid memiliki kepedulian terhadap masa depan anak-anaknya sehingga, mereka sanggup menyekolahkan anaknya ke-jenjang pendidikan menengah, adapun pembinaan dan training yang sering dilakukan memiliki tiga tujuan, yang pertama adalah, agar masyrakat memiliki pemahaman tentang islam lebih jauh dan mendalam, mereka harus mengerti tentang tauhid dan meniggalkan kesyirikan yang dulu mereka pelihara, tujuan kedua dari training itu adalah untuk menyiapkan garapan bagi anak-anak yang sedang sekolah di berbagai pesantren sehingga di waktu yang akan datang, ada kesesuaian antara wawasan masyarakat dengan wawasan yang dimiliki oleh anak-anak mereka yang suatu saat akan menjadi guru bagi mereka sediri, tujuan yang ketiga adalah untuk memberikan kesadaran dan menumbuhkan kekeritisan terhadap pemerintah yang saat itu mempersempit perkembangan islam pada aspek politik dan ekonomi. Alasan yang ketiga, mereka tidak pernah datang ke tempat pemilihan umum karena mereka merasa percuma-percuma saja kedatangan mereka ke tempat pemilihan umum tidak akan berpengaruh pada siapa yang akan mejadi pemimpin dan kebijakan apa yang akan berubah, sedikitpun mereka tidak akan memberikan kontribusi berarti dalam hal ini. Oleh karena itu, mereka tidak hadir ke tempat pemilihan—umum. 
Selain dari tuduhan-tuduhan yang mereka lontarkan kepada Isa Yusman dan Didin, mereka juga sering melakukan terror dan mengeluarkan jargon anti DI (darrul islam) yang ditujukan pada masyarakat Karentil, Legokngenang, Cikupa dan kampung-kampung yang telah dibina oleh Isa Yusman, padahal mereka tidak pernah terlibat dalam pergerakan DI TII. Semua itu mereka lakukan hanya karena perbedaan pemahaman dalam hal fiqhiyah dan sebetulnya apa yang mereka pertahankan tidak mereka laksanakan secara utuh.
Salah satu bentuk teror yang pernah mereka lakukan yaitu pada waktu menjelang pemilu 1977 dan sampai pada penangkapan beberapa orang masyarakat yang dianggap sebagai pembangkang. Hari sebelum pelaksanaan pemilu tahun 1977 masyarakat Legokngenang sedang melaksanakan shalat magrib berjamaah di mesjid  Jamie, waktu itu kepala Desa Cinengah, Junaeni, mengirimkan lebih dari 200 orang tenaga keamanan yang dikumpulkan dari semua masyarakat desa Cinengah untuk menggemparkan kampung Legok-ngenang. Pada saat masyrakat sedang melaksanakan shalat magrib, semua petugas keamanan itu sengaja berjalan mengelilingi mesjid dengan maksud memberi peringatan agar esok hari mereka harus mengikuti pe-milihan umum.
Beberapa hari sebelum kejadian itu, terjadi penagkapan terhadap beberapa orang dari masyarakat kampung Legokngenang oleh petugas keamanan desa Cinengah. Salah satu diantara mereka yang ditangkap adalah Odih. Dia ditangkap dengan alasan karena dia mendukung Partai Persatuan Pembangunan (PPP), karena waktu itu Junaeni mewajibkan semua penduduk desa memilih Partai Golongan Karya (GOLKAR).
Odih beserta yang lainnya ditangkap dan di bawa ke kantor desa Sukamanah untuk diintrogasi dan diberi perhatian agar mereka tidak memilih PPP pada waktu pemilihan umum dilaksanakan. Menurut beberapa orang yang waktu itu menyaksikan penangkapannya, penangkapan yang dilakukan oleh aparat keamanan desa sangat mengejutkan odih yang memiliki jiwa lemah, sehingga ketika odih dan rekannya di introgasi dan diberi ancaman odih mengalami defresi dan syok terhadap perlakuan aparat terhadapnya. Selain diintrogasi, ketiga orang ini juga dipukuli dan akhirnya dipenjarakan di kamar tahanan desa sukamanah.
Setelah tiga hari Odih mendekap di ruang tahanan desa, petang harinya, dia meminta ijin kepada petugas dengan alasan ingin me-ngambil air wudlu untuk menunaikan shalat ashar. Akhirnya, dia dikeluarkan dari tahanannya, kemudian dia melarikan diri dari tahanan desa di kampung Cagendang. Dia lari ketengah per-kampungan dan kemudian menjatuhkan diri ke sebuah sumur milik warga Cagendang.
Selain penangkapan dan teror yang dilakukan oleh pemerintah desa, pada masa menjelang pemilihan umum tahun 1977, segala kegiatan masyarakat sukamanah terus mendapat pantauan dari pemerintah, sekalupun pengajian-pengajian yang rutin dilakukan pun tetap menjadi sorotan dan selalu dicurigai. Pemerintah desa saat itu memang sangat ketakkutan kalau masyarakat Suka-manah menjadi basis kelompok ekstrim dan anti pemerintah. Padahal, meski Isa Yusman memiliki sikap kritis terhadap masyarakat tapi dia tidak pernah mengajak mesyarakat sukamanah untuk memberontak terhadap pemerintahan.

Sejarah Singkat
Persatuan Ummat Islam

Sejarah Singkat
Persatuan Ummat Islam (PUI)

Sebelum membahas menganai awal masuknya PPUI ke Sukamanah disini akan sedikit penulis paparkan mengenai sejarah singkat Pemuda Persatuan Umat Islam agar sedikit memberikan gambaran mengenai pergerakan organisasi PPUI tersebut, mari sejenak kita simak sejarah singkatnya.

Profil PPUI
VISI
Memperjuangkan terwujudnya Izat al Islam wa al Muslimin serta kejayaan ummat, bangsa dan negara
MISI
Mengaktualisasikan dan mengimplementasikan sistem dan tata nilai Islam dalam tatanan kehidupan pribadi, keluarga, ummat, bangsa dan negara.

TUJUAN
Terwujudnya pribadi, keluarga, masyarakat, negara, dan peradaban dunia yang diridhoi Allah SWT.
Persatuan ummat Islam (PUI) lahir pada tahun 1952 sebagai anak zaman dalam mematri persatuan dan kesatuan bangsa, khususnya persatuan dan kesatuan intern ummat Islam. Dikatakan sebagai anak zaman karena pada waktu lahirnya, yaitu pada tanggal 5 April 1952 bertepatan dengan 9 Rajab 1371 H di Bogor situasi dan kondisi keorganisasian sosial masyarakat di Indonesia saat itu cenderung berpecah-belah.
Dikatakan sebagai anak zaman karena pada waktu lahirnya, yaitu pada tanggal 5 April 1952 bertepatan dengan 9 Rajab 1371 H di Bogor situasi dan kondisi keorganisasian sosial masyarakat di Indonesia saat itu cenderung berpecah-belah. Tetapi PUI lahir justru sebagai hasil fusi antara dua organisasi besar, yaitu antara Perikatan Ummat Islam (PUI), yang berpusat di Majalengka, dengan Persatuan Ummat Islam Indonesia (PUII), yang berpusat di Sukabumi. Sebagai salah satu organisasi pergerakkan Islam, PUI begerak dan beramal di bidang Pendidikan, Sosial dan Kesehatan Masyarakat, Ekonomi dan Dakwah. Bahkan kini telah merintis dibidang Iptek (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi).
Perikatan Ummat Islam (PUI) merupakan organisasi yang pada awal didirikannya oleh K.H.Abdul Halim di Majalengka, Jawa Barat bernama Majlisul Ilmi (1911). Organisasi Majelisul Ilmi tumbuh dan berkembang melalui proses perjuangan yang penuh tantangan dan rintangan dari penjajah Kolonial Belanda. Dalam mencapai tujuannya organisasi ini terpaksa harus mengalami beberapa kali penyempurnaan dan pergantian nama.
Dengan penyempurnaan dimaksudkan untuk mende-wasakan organisasi agar tahan uji terhadap tempaan zaman dan ujian hidup, sedangkan dengan pergantian nama, dimaksudkan di samping untuk menyesuaikan diri terhadap misi dan beban tanggung jawab yang harus dipikul, juga untuk menghindarkan diri dari intaian dan ancaman Pemerintah Kolonial Belanda. Demikianlah pada tahun 1912 Majlisul Ilmi menyempurnakan diri dan merubah nama organisasinya menjadi Hayatul Qulub yang berarti menghidup-hidupkan hati. Setelah peristiwa aksi pemogokan buruh pabrik gula di Majalengka, dalam rangka melawan penindasan penguasa Belanda, Hayatul Qulub makin diawasi dan dicurigai Belanda. Kemudian, antara lain atas anjuran HOS Cokroaminoto, perhimpunan Hayatul Qulub dirubah dan diganti, namanya menjadi Persyarikatan Oelama (PO) pada tahun 1916.
Dengan sengaja ulah dan tipu daya Belanda Persyarikatan Oelama (PO) pun mendapat rongrongan dari pihak penjajah, bahkan dari teman seiring K.H.Abdul Halim sendiri yang telah kena hasut dan pengaruh dari aparat pemerintah Belanda.
Mereka menfitnah bahwa pendidikan/sekolah yang didirikan PO itu adalah sekolah kafir, karena bentuk dan sistemnya seperti sekolah yang diadakan oleh Belanda, yaitu pendidikan dengan sistem kelas dengan duduk di bangku dan menghadap meja serta papan tulis. Tidak hanya itu para ulama yang tidak senang terhadap perkembangan PO juga menyebarkan isu kepada masyarakat luas, bahwa organisasi PO itu bukan untuk dan milik rakyat awam, tetapi khusus untuk dan milik para ulama. Jadi bagi kita yang bukan ulama tidak pantas dan tidak perlu ikut-ikutan masuk PO, kata mereka. Mereka menghasut masyarakat muslim agar tidak masuk PO. Terhadap fitnah tersebut KH.Abdul Halim tidak pernah menyerah. Beliau tetap pada keyakinannya, menerukan pembaharuan dalam bidang pendidikan.
Pada awal pendudukan Jepang organisasi-organisasi pergerakan yang pada tahun 1938 bergabung dalam MIAI (PO, AII, Muhamadiyah dan NU) dibubarkan oleh penguasa Jepang. Para ulama/pimpinan organisasi tersebut kemudian mendesak penguasa Jepang agar organisasi-organisasi mereka diboleh-kan bergerak lagi. Beberapa bulan kemudian organisasi tersebut diizinkan oleh penguasa Jepang untuk melakukan kembali kegiatan-kegiatannya. Federasi MIAI pun diizinkan bergerak lagi dengan nama Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Sementara itu nama organisasi Persyarikatan Oelama diganti lagi menjadi Perikatan Oemmat Islam (POI), yang dengan perubahan ejaan Bahasa Indonesia sistem Soewandi (1974) menjadi Perikatan Ummat Islam (PUI).
Selanjutnya adalah sejarah Persatuan Ummat Islam Indonesia (PUII) yang didirikan oleh KH.Ahmad Sanusi di Sukabumi, Jawa Barat. Seperti halnya Perikatan Ummat Islam, searah perjuangan PUI juga melalui proses perkembangan dan pergantian nama. Semula pada awal didirikannya organisasi perjuangan ini bernama “Al-Ittihadiyatul Islamiyah” disingkat AII. Pada masa pendudukan Jepang, AII sebagai anggota MIAI, mengalami proses seperti PO. Pada saat itulah AII berganti nama menjadi Persatuan Oemmat Islam Indonesia (POII) pada tahun 1942, dan berubah namanya pada tahun 1947 menurut Ejaan Soewandi menjadi PUII. Perjuangan PUII sejak awalnya secara prinsipil sama dengan PUI. Mengapa demikian?.
Kiranya patut kita pahami bersama, bahwa antara pimpinan PUI dan pimpinan PUII itu sebenarnya adalah satu guru dan satu ilmu. Mereka yaitu KH.Abdul Halim dan KH.Ahmad Sanusi, pada waktu yang bersamaan menuntut ilmu di Mekah, Saudi Arabia pada tahun 1908-1911. Mereka saling bersahabat dan saling bertukar pikiran, baik di bidang pendalaman ilmu, maupun pengalaman ilmunya kelak setelah kembali ke tanah air. Pada waktu di Mekah, mereka juga bertemu dan menjalin persahabatan karib dengan tokoh-tokoh pejuang Islam Indonesia lainnya, seperti KH.Mas Mansyur (Muhammadiyah) dan KH.Abdul Wahab (Nahdlatul Ulama).
Sekembalinya di tanah air, persahabatan mereka berlanjut. Mereka saling berkunjung dalam rangka lebih memantapkan cita-cita yang telah terukir dan digalang sejak di perantauan, yaitu cita-cita untuk menggalang persatuan dan kesatuan ummat Islam Indonesia, mereka anggap sebagai tulang punggung wawasan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
Setelah mereka masing-masing memimpin PO dan AII, frekuensi pertemuan mereka semakin tinggi dan efektif. Sejak KH.Abdul Halim (PO) diundang oleh KH.Ahmad Sanusi untuk memberikan ceramah pada Muktamar AII di Sukabumi pada bulan Maret 1935, rencana realisasi cita-cita tentang terciptanya persatuan dan kesatuan ummat Islam Indonesia semakin kongkret. Kedua ulama beserta seluruh anggota masing-masing bertekad bulat untuk saling melebur organisasi mereka, guna mewujudkan cita-cita bersama.
Kemudian pada berbagai kesempatan, betapapun sibuknya mereka sebagai wakil-wakil rakyat dalam Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), yang dalam bahasa Jepang nya disebut Dokuritsu Zyumbi Choosakai, mereka menyempatkan diri untuk menyusun rencana teknis pelaksanaan fusi dari kedua organisasi mereka.
Rencana mengenai nama bentuk organisasi hasil fusi yaitu Persatuan Ummat Islam, rancangan (konsep) kepengurusan, waktu serta tempat diadakan fusi, dan lain-lain telah disepakati bersama. Tetapi ditakdirkan sebelum upacara fusi dilaksanakan, KH.Ahmad Sanusi dipanggil oleh Allah SWT. Beliau wafat tahun 1950. sesuai dengan wasiat beliau kepada keluarga dan pengurus PUII agar pelaksanaan fusi secepatnya direalisasi, maka pada tanggal 5 April 1952 bertepatan dengan 9 Rajab 1371 H. PUI dan PUII berfusi menjadi Persatuan Ummat Islam (PUI). Kemudian dinyatakan sebagai “Hari Fusi PUI”.
Pendiri-pendiri PUI tersebut yaitu KH.Abdul Halim, KH.Ahmad Sanusi dan Mr.Syamsuddin, berkat jasanya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, dianugerahi Bintang Maha Putera Utama, berdasarkan No.048/TK/Tahun 1992 tanggal 12 Agustus 1992 .

Awal Kehadiran Pergerakan Pemuda Persatuan Umat Islam

Awal Kehadiran Pergerakan Pemuda Persatuan Umat Islam

Di akhir tahun 1966, yaitu saat berakhirnya orde lama dan mulai berjayanya orde baru, presiden Suharto berusaha membatasi gerakan pertai islam Bahkan lebih jauh dari itu, setiap organisasi–termasuk organisasi sosial, kepemudaan dan profesi—gerakan kampus bahkan sampai ke mesjid-mesjid tidak sunyi dari pantauan intelejens. Hal itu dilakukan presiden soeharto dalam rangka me-nyebarkan asas tunggal pancasila. Istilah Ekstrim Kanan (Islam-iedologis) dan Ekstrim Kiri (Komunis) menjadi istilah umum yang selalu dikatakan sebagai bahaya laten yang akan memecah-belah persatuan dan kesatuan bangsa.
 Terjadinya sekularisasi Pancasila dan menguatnya Aliran Keper-cayaan ini. Di mata sebagian kaum intelek muslim, dibalik semua ini ada grand-design untuk mengelaminir Islam dengan berkolaborasi dengan kekuatan-kekuatan luar, dan kepentingan agama tertentu yang memanfaatkan Soeharto dan Orde Baru. Kelompok ini bukan saja memegang posisi-posisi strategis militer, tetapi juga menguasai pos-pos penting di bidang perekonomian dalam berbagai kabinet Orde Baru.
Kegiatan dakwah yang dilakukan aktifis islam makin gencar dilaksanakan, terutama di kampus-kampus dan kantor-kantor pe-merintah untuk mengimbangi kecenderungan anti Islam dalam kebijakan Orde Baru.
Selain itu, kegiatan dakwah di daerah-daerahpun mulai tersentuh oleh para aktifis kampus dan organisasi islam lainnya. Sementara itu Isa Yusman dan Didin adalah mantan aktifis kampus di salah satu perguruan tinggi di Kota Bandung. Dari sanalah adanya keter-sambungan antara mereka dengan organisasi Pemuda Persatuan Umat Islam (PPUI).
 Pada tahun 1973, Isa Yusman menyelenggarakan pelatihan keorganisasian sebagai tindak lanjut dari usaha mencerdaskan masyarakat. Pada training yang pertama Isa bekerjasama dengan rekn-rekan seperjuanganya yang diminta untuk menjadi pembicara dalam training yang pertama kali. Setelah Isa Yusman mendapat dukungan dari masyarakat untuk menyelenggarakan training, beliau langsung menghubungi rekan-rekannya yang berada di Cicalengka bandung. Ada tiga orang yang waktu itu beliau temui yaitu; Pak Dayat hafidi, Pak Ahmad Syah dan Pak Anwar shaleh. Ketiga orang ini dimintai kesiapan untuk menjadi pembicara pada waktu pelaksaan training akan tetapi waktu itu yang menyatakan siap hanya Pak Dayat Hapidi karena kedua orang lainnya sedang ada kesibukan lain.
Akhirnya, training perdanapun dilaksanakan dan dipusatkan di kampung Cikupa, adapun untuk pembicaranya adalah Pak Dayat Hafidi, Isa Yusman dan Didin.  Peserta yang hadir waktu itu tidak lebih dari 20orang yang terdiri dari orangtua dan pemuda, diantara peserta training angkatan pertama itu adalah orang-orang yang aktif dan menjadi sesepuh di beberapa Dewan Kemakmuran masjid yang ada di Desa Cinengah waktu itu mereka adalah Oid Sopandi, Ust. Udin Syaripudin, Hair, dan Tarjo sebagai perwakilan dari DKM legokngenang (sekarang DKM Nurussalam). Aep dan Edi sebagai perwakilan dari DKM Pasir Pogor, Jaya, Ust. Osid, Ust. Awan Setiawan, Mahmud, dan Uloh sebagai perwakilan dari DKM Cikupa (sekarang DKM Al-munawarah), Ahyaruddin, perwakilan dari DKM Kawungluwuk (sekarang DKM Nurul Iman), Aj. Usman Perwakilan dari DKM Genggong. Mereka adalah orang-orang yang sudah dekat dengan Isa dan Didin sehingga mudah untuk diajak bekerjasama dalam pelaksanaan kegiatan training tersebut. Peserta training angkatan pertama inilah yang kemudian menjadi pengurus dan pendiri yayasan pondok pesantren Al-munawarah sebagi islamic center yang berada di kampung cikupa.
Pada kali pertama, training ini diksanakan disebuah madrasah kecil yang di kampung cikupa karena saat itu belum ada tempat pengajian yang permanen sehingga kadang dilaksanakan di rumah-rumah atau tajug-tajug  dan pelasanaanyapun secara sembunyi-sembunyi karena pada saat itu, setiap kegiatan mayarakat yang berbentuk perkumpulan selalu mendapat pantauan dari pemerintah. Sementara Isa Yusman memiliki pertimbangan bahwa seandainya kegiatan tersebut diketahui oleh pemerintah, sudah barang tentu akan menjadi sorotan dan dianggap sebagai gerakan anti pemerintah. Oleh karena itu Isa Yusman berusaha untuk melaksanakan training secara sembunyi-sembunyi karena khawatir kegiatan tersebut harus distop pemerintah pada kali pertama.
Adapun materi yang disampaikan pada kegiatan pertama tersebut difokuskan pada teori keorganisasian yang berasaskan islam dengan landasan Ukhuwah Islamiyah, sehingga orientasi dari kegiatan itu adalah konsolidasi antar Dewan Kemakmuran Masjid. Selain itu karena kegiatan tersebut sangat dipantau oleh pemerintah desa, maka selain materi keorganisasian dan materi-materi keislaman ada materi khusus yang membahas tentang intejensi. Materi ini dimaksudkan agar semua peserta tidak akan berani membocorkan kegiatan tersebut pada pihak yang akan menghalangi pergrakan dakwah.
Dalam materi intelejensi ini para peserta di uji dengan simulasi yaitu semua peserta diberikan sebuah amanah untuk disampaikan pada orang-orang trtentu, dengan syarat jangan bertemu dengan seseorangpun, mereka harus berjalan di tengah malam dan tidak boleh diketehui oleh siapapun .

Pembentukan Pngurus PPUI Cabang Gununghalu

Pembentukan Pngurus PPUI Cabang Gunung Halu

Selepas pelaksanaan kegiatan tersebut, Isa Didin dan Dayat Hafidi sangat tertarik dengan antusias peserta dalam kegiatan tersebut, sehingga mereka bertiga merasa sangat menyayangkan seandainya para peserta dibiarkan begitu saja tanpa ada follow up terhadap pembinaan yang ada. Namun, disissi lain pelaksanaan kegiatan seperti itu cukup menyulitkan karena selain harus mempersiapkan pelaksanaan ada hal lain yang memaksa mereka harus membuat sebuauh strategi agar kegiatan bisa berjalan lancer tanpa ada gangguan dari pihak lain, sementara pihak pemerintah saat itu sangat anti terhadap segala kegiatan yang didalamnya berbentuk pembinaan.
Akhirnya, mereka bertiga memiliki sebuah alternative untuk dijadikan sebagai solusi untuk memecahkan hal tersebut yaitu, mereka berniat untuk mem-follow up peserta agar selalu terkontrol dan mudah diarahkan. Kemudian Dayat Hapidi mencoba menawarkan sebuah solusi dengan membuat sebuah kepengurusan cabang dari PPUI (Pemuda Persatuan Umat Islam).
Selanjutnya, Isa dan Didin pun menyetujuinya agar segera dibuat kepengurusan  organisasi yang akan bertanggung jawab dalam setiap pembinaan dan pelatihan. Setelah semuanya disetujui akhirnya, dibentuklah sebuah kepe-ngurusan PPUI Cabang Gununghalu dengan kepengurusan sebagai berukut:
Penanggungjawab    : Dayat Hafidi
Ketua         : Isa Yusman
Wakil Ketua    : Didin
Kaderisasi        : Anwar Sholeh
Setelah terbentuk kepengurusan PPUI cabang Gununghalu tersebut maka kegiatan training dan pembinaan sering dilaksanakan, meski pihak desa semakin mendesak dan sering mengintai dengan mengirim intel untuk mengawasi pergerakan dakwah yang dilakukan di kampung cikupa.
Pada saat kegiatan dakwah yang dimotori oleh Isa Yusman dan Didin tersebut dijadikan sebagai kegiatan pembinaan rutin dan keliling kesetiap rumah secara sembunyi-sembunyi untuk menghindari fitnah dari para pejabat desa, mereka berdua sering di panggil ke kantor desa untuk diintrogasi seputar pergerakan yang mereka jalankan.
Selain itu, Didin dan Isa dihadapkan pada sebuah permasalahan yang lebih berat dan bersangkutan dengan profesinya sebagai guru sekolah dasar. Mereka berdua memiliki prinsif bahwa islam harus berjalan sebagaimana mestinya. Pendidikan ilmu agama islam tidak bisa dipisahkan dari proses pendidikan formal seperti di sekolah-sekolah oleh karena itu mereka selalu mengedepankan pendidikan agama dari pada pelajaran umum yang tercantum dalam kurikulum sekolah. Sementara itu pemerintah khususnya presiden Soeharto memiliki pandangan lain yang condong pada pemahaman sekularis sehingga melarang mengajarkan ilmu agama di sekolah. Isa sering dipanggil karena beliau tidak mematuhi peraturan Negara yang anti Ideologi terutama Islam.
Akhirnya, setelah beberapa kali Isa mendapat panggilan terkait pengajran ilmu agama islam yang ia ajarkan di sekolah maka akhirnya Isa Yusman lebih memilih idealismenya dari pada profesi yang ia pegang. Beliau mengundurkan diri pada dari statusnya sebagai Pegawai Negeri Sipil karena waktu itu selain beliau lebih konsen pada pembinaan masyarakat, beliau juga merasa tertekan dengan kebijakan bahwa Pegawai negeri harus besikap pro terhadap orde baru dan GOLKAR (Paratai Golongan Karya) .
Isa merasa yakin kalau seandainya ia ikut pada kebijakan asas tunggal maka berarti dia telah mengabaikan islam maka satu jalan yang ia pilih ketika itu adalah meninggalkan profesinya dan focus terhadap pembinaan Islam.
Kasus lain yang pernah dialami Isa dan Didin adalah pristiwa penangkapan oleh koramil, kasus ini berawal dari sebuah laporan yang dibuat-buat oleh aparat desa mengenai aktifitas Isa dan Didin berikut rekan perjunagannya Anwar Shaleh, Dayat Hapidi dan Ahmad Syah.
Dalam kegiatan pengajian yang selalu dilaksanakan oleh mereka seringkali mendapat pantauan dari intel desa yang sengaja diperintahkan oleh kepala desa Cinengah. Sehingga pada suatu ketika, dalam sebuah pengajian malam hari yang dilaksanakan di sebuah rumah panggung milik salah sseorang anggota PPUI di Kampung Cikupa, karena saat itu pengajian masih dilaksanakan secara tersembunyi maka tempat dan waktu pelaksanaannya ppun selalu mendadak. Akan tetapi intel desa hamper disetiap kegiatan selalu bisa tahu mengenai tempat dal waktu palaksaannya. Sehingga waktu itupun ada intel yang bersembunyi di kolong rumah tersebut dan men-dengarkan pengajian dengan maksud mencari ungkapan-ungkapan yang bisa dijadikan sebagai bahan laporan.
Entah apa yang dia dengar dan entah apa juga yang ia laporkan ke kepala desa, akan tetapi seminggu setelah kejadian itu Isa dipanggil ke kantor polsek untuk dimintai keterangan dan beliau juga sempat ditahan beberapa malam. Kemudian beliau dipindahkan ke koramil bandung tengah untuk dinyatakan sebagai tersangaka, namun setelah  beberapa hari beliau ditahan di bandung, beliau kembali dibebaskan dan pulang ke rumahnya diantar oleh salah satu petinggi brimob.
Semua orang merasa heran terlebih lagi aparat desa yang tidak antipasti terhadap Isa. Akan tetapi, setelah Isa diperiksa tidak ada sedikitpun bukti yang menunjukan bahwa Isa adalah pemberontak. Bahkan kepala koramilpun meminta map kepada Isa terutama orang yang mengantarkannya pulang yang tiada lain adalah sahabat Isa Yusman sendiri merasa malu dan akhirnya memberikan dukungan agar programnya terus dilanjutkan.

Setelah kejadian itu, Isa Yusman beserta enggota PPUI yang lain semakin semangat dan berani untuk melaksanakan program-programnya seperti pengajian gerakan pembangu-nan sarana pengajian, sarana pendidikan, pengelolaan wazis (wakaf, zakat, infaq dan shodaqoh), serta pembinaan dan pelatihan keoraganisasian. Bahkan lebih jauh pergerakan mereka sudah mulai menjalankan kaderisasi dikalangan remaja dan pemuda saat itu.
Pada awal tahu 1970, pengajian dan pembinaan sudah mulai melibatkan kaum muda dan remaja yang saat itu berada di kampung halamannya masing-masing, selain itu setiap ada liburan panjang maka anak-anak yang disekolahkan ke berbagai pondok pesantren juga disediakan kegiatan-kegiatan berbasis pembinaan keislaman (tarbiyah islamiyah). Adapun kaum muda yang tidak sedang melanjutkan pendidikannya juga sering diikut sertakan dalam kegiatan tersebut. Tujuannya adalah supaya diantara generasi penerus ini tertanam sebuah ikatan persaudaraan yang solid dan siap untuk melanjutkan perjuangan para orang tua yang saat itu sudah mulai merintis yayasan pendidikan dan mulai membangun sarana-sarana pendidikan.
Meski kader-kader yang di sekolahkan diberbagai tempat yang berbeda akan tetapi mereka diberikan pengarahan yang sama bahwa missi dari pada pembelajaran itu adalah untuk dakwah dan membangun lingkungan, sehingga, meskipun diantara mereka jarang bertemu akan tetapi sebuah pemahaman dan cita-cita mereka tetap sama, tidak ada egoisme atau mereasa membanggakan sekolah masing-masing akan tetapi mereka menyadari bahwa suatu saat mereka akan kembali ke kampung halaman dan harus siap untuk bekerja sama untuk membangun lingkungan mereka terlebih dalam masalah agama.
Kegiatan tahunan para pelajar saat itu adalah kegiatan training PII Pelajar Islam Indonesia yang masih berada di bawah asuhan Isa Yusman dan beberapa rekannya yang lain. Materi yang disuguhkan dalam tersebut adalah materi keorganisasian dan serta pembinaan mental agar mereka siap menjadi du’at dihari nanti.
Tidak ada perbedaan diantara mereka baik orang yang sekolah maupun yang bekerja karena dalam pembinaan tersebut sangat dikedepankan masalah ukhuwah dan solidaritas anggotanya, sehingga tidak pernah keluar ucapan yang mengunggulkan diri sendiri, kelompok ataupun membanggakan ide senidiri. Akan tetapi mereka sangat mementingkan kebersamaan dan tidak pernah merasa lebih dari yang lain atau menganggap yang lainnya lemah. Setiap ide adalah ide bersama dan segala resiko mereka tanggung bersama . 

Pergerakan Kaum Muda

Pergerakan Kaum Muda

 Setelah kaum muda dan emaja ikut terlibat dalam pengajian-pengajian, akhirnya mereka yang tidak sekolah juga didorong untuk mengikuti pelajaran pesantren bersama anak-anak yang sedang belajar di Pesantren Persis NO I (pajagalan Bandung) yaitu di pondok pesantren Cibuntu yang berada di jalan Sukarno Hatta (holis) karena saat itu pesantren ini merupakan asrama bagi anak-anak yang disekolah PPI no I Bandung.
Oleh karena itu tidak ada kesenjangan antara anak-anak yang sekolah maupun yang tidak sekolah, tapi mereka memiliki sebuah pandangan yang sama dan siap bekerja sama dalam memajukan  lingkungan mereka.
Disaat kaum muda sedang berada di pesantren maka Isa Yusman dan beberapa tokoh dari tujuh Dewan Kemakmuran Masjid berusaha mendirikan sebuah bangunan yang difungsikan sebagai tempat pendidikan. Mereka bergotong royong untuk membuat madrasah di kampug Cikupa yaitu madrasah al-munawarah.
Pada tahun 1973  pembinaan mulai gencar dilakukan sehingga para tokohpun mendakwahkan materi-materi tarbiyah yang diberikan dalam pembinaan di al-munawarrah. Selain itu masyarakat dari masing-masing DKM sudah mulai banyak yang ikut bergabung dalam gerakan-gerakan pembangunan sarana pendidikan tersebut.
Pada tahun 1975, kader-kader yang disekolahkan ke beberapa pesantren sudah ada yang kembali ke kampung halaman masing-masing. Mereka mengadakan sebuah gebrakan dengan melaksanakan pembinaan-pembinaan di daerah masing-masing dibawah kordinator pengurus PPUI cabang gununghalu. Pergerakan yang mereka lakukan adalah pembinaan kepada para pemuda dan pelajar, tokoh yang menjadi penggagasnya saat itu adalah Dayat Hapidi dan Pengurus GPI Wilayah Bandung Dadan Dania. Pusat pembinaannya masih sama yaitu di kampung cikupa madrasah almunawarah, akan tetapi palasanaannya sering dilakukan di berbagai tempat yang memiliki komitmen terhadap pembinaan tersebut salah satunya adalah DKM Legokngenang.
Dari pembinaan tersebut, akhirnya terbentuklah sebuah kepengurusan cabang organisasi Gerakan Pemuda Islam dengan struktur kepengurusan sebagai berikut:
Ketua        : Dudun Syamsu Rijal
Wakil ketua     : Apipudin
Sekretaris        : Aep Chaerudin
Bendahara     : Anwar Hadian

Organisasi tersebut bergerak dalam bidang pendidikan keagamaan dan social salah satu programnya adalah pembasmian terhadap praktek-pratek kesyirikan yang masih ada pada sebagian masyarakat Sukamanah, sosialisasi kewajiban mengenakan jilabab bagi kaum hawa dan menyebarkan tentang kewajiban mengucapkan salam sebagai pengganti tata kerama local yaitu kata “Punten” (permisi) diganti dengan “Assalamualaikum”. Pendidikan keagamaan yang dilakukan sangatlah terbuka bagi semua orang, para pengurus mengumpulkan dana untuk pelaksanaan kegiatan dari masyarakat yang peduli dalam hal pendidikan islam .
Kegiatan seperti itu terus dilakukan meski tekanan dari aparat desa masih sering jadi penghalang. suatu ketika dalam pelaksanaan training yang dilakkukan di Masjid Legok ngenang ada seorang peserta yang sengaja menyusup sebagi intel dari desa. Ketika dalam pertengahan pelaksanaan kegiatan orang tersebut melaporkan hal yang sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya sehingga Aep Chaeruddin yang saat itu menjabat sebagai sekretaris GPI cabang Gununghalu pada sore harinya di panggila oleh aparat desa, namun akhirnya setelah ada keetrangan yang jelas mengenai kegiatan itu ternyata tidak ada bukti yang menyatakan bahwa kegiatan tersebut adalah Ketika dalam pertengahan pelaksanaan kegiatan orang tersebut melaporkan hal yang sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya sehingga Aep Chaeruddin yang saat itu menjabat sebagai sekretaris GPI cabang Gununghalu pada sore harinya di panggila oleh aparat desa, namun akhirnya setelah ada keetrangan yang jelas mengenai kegiatan itu ternyata tidak ada bukti yang menyatakan bahwa kegiatan tersebut adalah  merupakan kegiatan terlarang.

Dampak dari pergerakan-pergerakan itu sangatlah terlihat dalam keseharian masyarakat. Pada tahun 1975 tidak ada seorangpun wanita yang berani masuk ke daerah sukamanah tanpa menganakan jilbab serta setiap kali ada yang bertemu dengan masyarakat Sukamanah terutama di kampung Cikupa dan sekitarnya pasti mengucapkan salam. Hal itu merupakan dampak dari kegiatan dakwah yang dilakukan oleh para pemuda dan tokoh yang telah dibina oleh Ahmad Hapidi, Anwar Shaleh, Isa Yusman dan rekan-rekannya.
Disamping pergerakan yang dilancarkan oleh para pemuda dan pelajar. Para orang tua juga tidak kalah semangatnya. Dibawah kordinator Isa Yusman beserta para pengurus lain akhirnya di sukamanah terbentuklah sebuah aliansi Dewan Kemakmuran Masjid yang terdiri dari tujuh anggota DKM. Mereka berusaha mendirikan sebuah yayasan pendidikan al-munawarah dan diresmikan pada tahun 1975 dengan pimpinan Yayasan dipercayakan pada Ust. Awan Setiawan selama hamper 15 tahun yaitu dari yahun 1975-1999.
 Setelah yayasan tersebut berdiri dengan dukungan tujuh DKM, satu tahun berikutnya telah mampu mendirikan sebuah madrasah yang cukup luas terdiri dari dua lantai dan tujuh ruangan. Dan mulai mendirikan lembaga pendidikan tingkat Ibtidaiiyah pada akhir tahun 1976.
Pendidikan islam formal pertama yang ada di daerah Gunghalu, yaitu pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, dengan pengajarnya adalah orang-orang yang telah disekolahkan dipesantren-pesantren Persis.
Kemudian pada tahun 1993, yayasan al-munawarah mulai membuka jenjang pendidikan tingkat SLTP pilial, yaitu madrasah tsanawiyah Al-munawarah yang menginduk pada Madrasah Tsanawiyan As-shidiq Rancapanggung Desa muka Payung kecamatan Cililin Kabupaten Bandung . Dari madrasah tsanawiyah ini telah mapu melahirkan alumni-alumni yang cukup berkualitas sehingga menjadi tokoh di luar daerah bahkan diluar kota sekalipun.
Pada tahun 1994, pergerakan pergerakan yang dilakuakn sudah tidak terlalu melibatkan orang-orang Pembina dari luar seperti Dayat Hapidi, Anwar Shaleh, Ahmad Syah, dan yng lainnya. Bahkan Isa Yusman sendirippun, beliau berimigrasi kekalimantan setelah beliau melihat adanya suatu perkembangan yang sangat pesat pada masyarakat sukamanah tersebut dan sampai sekarangpun Isa Yusman Masih menetap di pulau Kalimantan.
Banyak prekembangan yang diraih oleh masyarakat saat itu, baik dalam segi pendidikan, gerakan pembangunan sarana-saran pendiddikan dan pembinaan yang intensifpun sudah tidak lagi sembunyi-sembunyi karena masyarakat sudah banyak yang bergabung dalam kegiatan ini bahkan setelah pemekaran desa Sukamanah dari Desa Induknya yaitu Desa Cinengah pada sejak tahun 1987 kepala desa nya sudah mulai loyal dan tidak lagi memantau secara ketat terhadap segala kegiatan yang dilaksanakan ddi al-munawarah.
Pada akhir tahun 1994 yayasan al-munwarah tidak hanya bergerak dalam bidang pendidikan saja bahkan dalam bidang ekonomipun sudah muali digarap. Di awal tahun 1995 berdirilah BMT sebagai sarana simpan pinjam bagi jamaah. Pendirian BMT ini bertepapatan dengan pendirian pendidikan Taman Kanak-kanak Alquran (TKA al-munawarah) dan inilah sebuah pendidikah yang sangat banyak memberikan kontribusi terhadap perkembangan intelektual Masyarakat, karena berkat TKA ini hapir seribu anak telah mampu membaca al-quran dengan fasih.
Semua sarana tersebut di atas mulai dari pendidikan Madrasah Tsanawiyah sampai saran simpan pinjam BMT mampu bertahan sampai menjelang tahun 1999. Sehingga saat itu al-munawarah menjadi sentral pendidikan Islam untuk masyarakat sukamanah dan sekitarnya.
Suasana yang mencerminkan keislaman saat itu sanagatlah terasa, semua masyarakat memiliki kesadaran mengenai persaudaraan antar muslim, tiap kali mereka bertemu selalu mengucapkan salam bahkan ada yang sakit seorangpu mereka langsung kompak menumpahkan kasih sayangnya terhadap sesama, solidaritas dan loyalitas diantara mereka sangat tergambar dalam keseharian mereka.
Keberhasilan Isa Yusman beserta rekan-rekannya memang begitu terlihat. Tidak dibatasi dengan jumlah Ustad yang saat itu mencapai 25 orang, yaitu diantaranya adalah:
1.    Ust. Awan setiawan
2.    Ust. Dudun Syamsu rijal
3.    Ust. Rusyana
4.    Ust. Ade Purnama
5.    Ust. Zaenuddin
6.    Ust. Udin  Syaripuddin
7.    Ust. Apipuddi
8.    Ust. Aep Chaeruddin
9.    Ust. Herlan Sudarsa
10.    Ust. Anwar Hadian
11.    Ust. Asep Ridwan
12.    Ust. Hasan Firmansyah
13.    Ust. Aripin
14.    Ust. Seharunjaya
15.    Ust. Ali Syaiful Bachri
16.    Ust. Edi
17.    Ust. Ma’mun
18.    Ust. Dudung
19.    Ust. Herman
20.    Ust. Lukman
21.    Ust. Komar
22.    Ust. Kokom komaruddin
23.    Ust. Mu’min
24.    Ust. Mahfud Zunaedi dan
25.    Alm. Ust. Abdul Rasyid

Kesemua asatidz ini memiliki pandangan dan prinsip yang sama, tidak ada hal yang menghalangi mereka untuk bersatu mencerdaskan putra daerahnya dan menjaga amanah jamaah yang begitu besar. Sehingga banyak sekali orang yang meras  kaum melihat persaudaraan diatara mereka. SDM yang berkwalitas bergabung dalam sebuah perjuangan dakwah sehingga mampu menyatukan tujuh DKM dalam satu aliansi yang sangat solid.
Di akhir tahun 1998, entah apa yang menjadi sebuah sebab musabab timbulnya keretakan di tubuh yayasan almunawarah. Berbagai program mulai banyak yang tidak berjalan, satu persatu anggota aliansi memisahkan diri dari almunawarah dan semangat pengajarpun mulai kendor, madrasah mulai kosong mesjid semakin hari semakin sepi dan sunyi. Anak-aanak yang sedang belajar di sana mulai sering terabaikan karena tidak ada pengjar yang datang.
Suasana komplek pendidikan al-munawarah ini seolah menjadi sebuah panggung pertunjukan yang begitu ramai pengunjung dan seketika setelah pertunjukannya selesai orang-orang meninggal-kannya dengan begitu saja. Begitu sepi dan penuh misteri yang tidak semua orang mengerti akan sebab meledaknya pertentangan dan perpecahan diantara pe ngurus yayasan Al-munarah tersebut sehingga mungkin di sebagian masyarakat yang menjadi saksi kehancuran al-munawarah itu merupakan sejarah hitam yang membungkam semua orang agar tidak bersuara dan segera menutupi al-munawarah dengan dengan kabut amarah.
Saat-saat terakhir dari kepemimpinan Ust. Awan Setiawan di yayasan al-munawarah merupakan saat-saat yang paling menegangkan perlaihan kepemimpinan yayasan kepada Ust. Dudun Syamsu Rijal merupakan klimaks dari pergerakan aliansi DKM yang telah dirintis oleh para aktifis yang telah banyak mengobankan perasaan dan mencucurkan keringat mereka demi berdirinya sebuah yayasan penidikan islam.
Peralihan pimpinan yayasan diikuti dengan peralihan pimpinan ketua DKM dari Ust. Seharunjaya Kepada Ust. Ma’mun. menjadi akhir dari segalanya tentang persatuan. Setelah beberapa bulan dari pergantian kepemimpinan tersebut dan menjelang pemilu 1999 dimana partai-partai islam kembali manggung di kancah perpolitikan Indonesia maka hal inilah yang dimunculkan sebagai alasan perpecahan di kalangan pengurus al-munawarah.
Saat itu sebagian dari pengurus yayasan mencoba membuat sebuah kegiatan tabligh akbar dengan mendatangkan seorang tokoh ternama dari aktifis Masyumi K.H. Abdul Qadir Djaelani yang dulu sempat terlibat dalam pergerakan dakwah di Sukamanah dengan perantara Dayat hapidi. Beliau mencoba mengajak jamaah al-munawarah untuk bergabung dalam Partai Bulan Bintang (PBB) yang menjadi penerus perjuangan masyumi. Sementara pihak lain dari kalangan pengurus yayasan telah bergabung dengan partai Keadilan (PK) maka dari sinilah kelimaks perpisahan pengurus yayasan. Sehingga akhirnya terbentuk dua kubu yang saling bertentangan. Orang-orang yang pro PBB mengikuti langkah Ust. Awan setiawan dan berpindah tempat ke Kampung Cikawung, sementara yang pro kepada Partai Keadilan tetap tinggal di al-munawarah.

Akhirnya al-munawarah melanjutkan perjuangannya dengan tertatih-tatih dari tahun 1999 sampai sekarang berkat salah seorang Ust. Yang berusaha untuk bersikap netral yaitu Ust. Apipudin beliau telah berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan amanah jamaah dan mempertahankan eksistensi yayasan serta lembaga pendidikan Madrasah Tsanawiyah meski penuh dengan ujian dan tekanan dari ppihak-pihak yang tidak memiloiki tanggung jawab terhadap asset jamaah tersebut, padahal orang yang memisahkan diri dari al-munawarah sendiripun (pengurus yayasan) tidak begitu membenci al-munawarah akan tetapi mereka yang sama sekali tidak tahu tentang seluk beluk almunawarah dan bahkan tidak terlibat dalam kepengurusan malah menyebarkan fitnah terhadap orang-orang yang berusaha menjaga asset jamaah tersebut.
Adapun kkubu yang memisahkan diri dari almunawarah, setelah beberapa lama dari insiden itu mereka mendirikan DKM baru yaitu DKM al-istiqomah yang bertempat di kampung Cikawung. Dan kembali mendirikan yayasan Naza Syarif.
Selain kedua DKM tersebut pasca perpecahan itu DKM-DKM yang lainpun mencoba berdiri sendiri dan mengelola jemaahnya masing-masing. DKM yang terbentuk pasca perpecahan itu diantaranya adalah DKM legokngenang bergabung dengan Karentil menjadi (DKM Nurussalam), DKM Lebakmuncang mendirikan DKM Al-irfan (Lebakmuncang hilir) dan DKM Nurul Iman (lebakmuncang Girang), DKM alikhlas didirikan di Kampung Pameungpeuk bergabung dengan Kampung Babakan Tugu, kampung Genggong mendirikan DKM  Al-muslimin dan Kampung Nyangigir mendirikan DKM el-badr.
Kesemua DKM tersebut sampai sekarang berjalan masing-masing dan sejak saat itu belum pernah ada sebuah program bersama baik  dalam bentuk pembinaan maupun pelaksanaan shalat iedain padahal dulu sebelum terjadinya perpecahan setiap tahun pelaksaan shalat ied selalu digabung di satu tempat yang disepakati oleh seluruh perwakilan dari DKM masing-masing.
Kondisi tersebut berlangsung sampaii akhir tahun 2010, karena pada akhir tahun tersebut  sudah muali ada jalinan kerjasama kembali khususnya  antara DKM al-munawarah dan DKM al-istiqomah serta DKM Nurusslam pun sudah mulai bergabung meski hanya dalam hal-hal yang sederhana, akan tetapi ini merupakan awal langkah awal dari keharmonisan yang didambakan.

Cepian adalah  penulis buku yang sedang anda pegang ini dilahirkan pada tanggal 22 Agustus 1988, di sebuah perkampungan taitu Kampung Karentil, Desa Sukamanah, Kecamatan Rongga Kabupaten Bandung Barat. Beliau adalah anak ke enam sekaligus penutup daftar kelahiran buah hati dari pasangan Bapak Hair dengan Ibu Enah.
Pendidikan pertamanya adalah Taman Kanak-kanak Al-quran Al-munawarah yang berlokasi di kampung Cikupan masiih satu desa dengan tempat kelahirannya. Beliau masuk TKA pada tahun 1994 dan kemudian dilanjutkan ke tingkat TPA dan Lulus pada tahun 1996.
Pada usianya yang ke tujuh tahun tepatnya pada tahun 1995-1996 beliau masuk ke Sekolah Dasar Negeri Cinengah I dan Lulus pada tahun 2000-2001. Kemudian pendidikannya dilanjutkan ketingkat SLTP di Madrasah Tsanawiyah pilial Al-munawarah sampai lulus pada tahun 2003-2004.
Setelah lulus dari Madrasah Tsanawiyah, pendidikan selanjutnya dilanjutkan ke Madrasah Aliyah Al-qomariah, pada tahun 2004-2005 beliau menjabat sebagai wakil ketua MPK di Madrasah Aliyah dan pada tahun berikutnya beliau dipercayakan menjadi ketua OSIS priode 2006-2007. Selama sekolah di al-qomariah beliau termasuk pada  peringkat lima besar sehingga mendapatkan beasiswa selama dua tahun.
Pada tahun 2007 beliau lulus dari Aliyang, setelah tiga bulan dari kelulusannya beliau berangkat ke Jakarta untuk bekerja sebagai kuli bangunan, namun hal ini hanya berjalan selama tiga bulan. Setelah beliau pulang dari Jakarta pada tanggal 22 Desember 2007 kemudian beliau mendapat tawaran untuk menjadi seorang guru TK di Taman Kanak-kanak Zamrud Komplek Permata cimahi. Beliau tinggal di Cimahi selama dua bulan. Pada tanggal 18 Januari 2008 beliau mengikuti tes beasiswa di sebuah yayasan Timur Tengah Yaitu Yayasan Mawaddah Atta’awuniyah dan beliaupun mendapatkan beasiswa D3 program Bahasa Arab yang dilaksanakan di Cileunyi selama satu tahun. Ketika masuk ke tingkat 2 program bahasa di Mawaddah Atta’awuniyah beliau mendapatkan beasiswa dari Kampus Andalus Republik Yaman, namun akhirnya program besiswa tersebut gagal di jalani karena suatu alasan yang tidak bisa dihindari.
Setelah beliau   keluar dari mawaddah beliau kembali ke rumahnya, dan setelah beberapa bulan beliau kembali menjadi seorang buruh di sebuah pabrik tabung pertaminina. Setalah satu bulan kemudian beliau pindah kerja ke proyek bangunan. Pada saat beliau sedang bekerja beliau mendapatkan tawaran untuk mengikuti testing beasiswa S1 ditpertais dan dengan modal buruh yang ia dapatkan dari hasil kuli dari bangunan, kemudian beliau mengikuti testing dan berkat izi Allah SWT akhirnya beliaupun mampu meraih beasiswa S1 di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung dari tahun 2009-sekarang.
Begitulah biogerafi singkat tentang kehidupan penulis yang saat ini sedang  menjalani program s1 di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Semoga buku yang beliau susun ini mampu memberikan sebuah informasi yang bermanfaat bagi orang-orang yang punya kepedulian terhadap sejarah.