FILSAFAT ILMU
![]() |
| Filsafat Sebagai Akar Ilmu Pengetahuan |
- Filsafat Ilmu, Ontologi dan Epistimologi
- Pengertian
- Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu terdiri dari dua kata yang sangat berkaitan baik secara substansial maupun historical (filsafat dan ilmu). Filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia atau philosophos. Philos atau philein berarti teman atau cinta, dan shopia atau shopos berarti kebijaksanaan, pengetahuan, dan hikmah. Filsafat berarti juga mater scientiarum yang artinya induk dari segala ilmu pengetahuan. Kata filsafat dalam bahasa Indonesia memiliki padanan kata falsafah(Arab), philosophie (Prancis, Belandadan Jerman), serta philosophy (Inggris)[1]. Dengan demikian filsafat berarti mencintai hal-hal yang bersifat bijaksana (menjadi kata sifat) bisa berarti teman kebijaksanaan (menjadi kata benda) atau induk dari segala ilmu pengetahuan.
Dalam kamus Bahasa Indonesia1998, ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang tersusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang itu. (Nazir 198) ilmu adalah pengetauan umum dan sitematis atau ilmu merupakan akumulasi pengetahuan yang telah disistematisasi dan diorganisasi sedemikian rupa dengan asas pengetahuan yang procedural, metodologis, teknis, serta normative akademis[2].
Jadi, Filsafat Ilmu adalah salah satu cabang filsafat yang berkonsentrasi pada pengakajian mengenai sumber, hakikat, fungsi serta tujuan daripada ilmu dan pengetahuan. Lebih khusus lagi, Filsafat Ilmu merupakan bagian dari Epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (J.F Fasier 1954) dan dasar-dasar yang menjiwai dinamika dalam proses kegiatan memperoleh pengetahuan secara ilmiah.
- Ontologi
Ontology (tameta fisika) merupakan cabang filsafat yang mengakaji segala sesuatu yang ada di balik segala yang nyata, dan sampai dimana yang henadak dcapai ilmu. (J.F Fasier) on=being artinya wujud, apa dan logos berarti teori atau ilmu, jadi ontology adalah cabang yang membahas tentang ke-apa-an (hakikat ilmu) oleh karena itu Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan pada dataran studi filsafat pada umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika[3].
Sebagai batasan dalam kajian ontology ada beberapa pertanyaan yang bisa dijadikan sebaga patokan untuk mencapai tujuan ontology yaitu; tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (sepert berpikir, merasa dan mengindera) yang membuakan pengetahuan?. (Suriasumantri 1993).
- Epistimologi
Epistimologi berasal dari bahasa latin episteme (knowledge) yang berarti juga teori tentang segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Pembahasan epistimologi meliputi aspek normative secara ilmiah di samping aspek procedural, metode dan teknik memperoleh data empiris (metode ilmiah, sistematis dan logis). Dengan kata lain epistimologi adalah metode ilmiah yang sistematis dan logis untuk mendapatkan pengetahuan(Karta Negara 2003).
Untuk mendapatkan sebuah pengetahuan, ada beberapa persoalan yang harus dipecahkan oleh epistimologi yaitu yang berkaitan dengan hal-hal berikut ini; Bagaimana prosedur untuk mendapatkan pengetahuan?, Hal apa saja yang harus diperhatikan agar pengetahuan bisa didapatkan dengan benar?, apa sebenarnya yang di anggap sebagai kebenaran itu?, apa keriteria pengetahuan yang benar itu?, bagaimana metode, sarana, dan teknik yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? (Suria Sumantri 1993).
- Wilayah Kajian
- Filsafat Ilmu
Filsafat Ilmu secara fokus diarahkan pada pengkajian komponen‑komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Filsafat ilmu akan mengkaji secara spesipik tentang apa yang dimaksud pengetahuan, sumber-sumber pengetahuan, bagaimana pengetahuan didapatkan, bagaimana kebenaranan sebuah ilmu bisa teruji, apa yang yang disebut dengan kebenaran ilmu itu, dan apa kegunaan ilmu yang dikaji secara ontologik dan epistimologik itu[4].
- Ontologi
Dalam makalah ontology epistimologi dan aksiologi[5] memaparkan landasan ontologis; cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan antara objek yang dimaksud dengan daya tangkap manusia (sepert berpikir, merasa dan mengindera) yang membuakan pengetahuan?. Sehingga Jujun S. Sumantri mengatakan bahwa ontology mengkaji secara focus tentang ke-apa-an ilmu (hakikat ilmu).
Ontologi (hakikat apa yang dikaji) Ontologi membahas keberadaan sesuatu yang bersifat kongkrit secara kritis. Secara ontologis, objek dibahas dari keberadaannya, apakah ia materi atau bukan, guna membentuk konsep tentang alam nyata (universal ataupun spesifik). Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu, apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagaimana (yang) “Ada”. Persoalan yang didalami oleh ontologi ilmu misalnya apakah objek yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud hakiki objek tersebut? Bagaimana hubungan objek tersebut dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa dan mengindra) yang membuahkan pengetahuan?[6].
- Epistimologi
Epistemologi adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Ia merupakan salah satu cabang filsafat yang membahas tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, metode atau cara memperoleh pengetahuan, validitas dan kebenaran pengetahuan (http://astaqauliyah.com/2007/05/epistemologi-pengertian-sejarah-dan-ruang-lingkup/).
Menurut Jujun S. Sumantri (dalam qadir 1988), epistimologi adalah proses dan cara untuk mendapatkan pengetahuan yang mengkaji seputar; ; Bagaimana prosedur untuk mendapatkan pengetahuan?, Hal apa saja yang harus diperhatikan agar pengetahuan bisa didapatkan dengan benar?, apa sebenarnya yang dianggap sebagai kebenaran itu?, apa keriteria pengetahuan yang benar itu?, bagaimana metode, sarana, dan teknik yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?.
- Tujuan dan fungsi Mempelajari
- Filsafat Ilmu
filsafat adalah suatu usaha memahami alam semesta dari sisi makna dan nilainya. Adapun tujuan filsafat adalah mendapatkan pengertian dan kebijaksanaan (understanding and wisdom) (Harold H. Titus) selain itu mempelajari filsafat adalah untuk mempertajamkan pikiran, (Soemadi Soerjabrata). Orang mengharapkan bahwa filsafat akan memberikan kepadanya dasar-dasar pengetahuan, yang dibutuhkan untuk hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup agar dapat menjadi manusia yang baik dan bahagia(H. De Vos). (sunny di 08.55 . Kamis, 02 http://kuliahfilsafat.blogspot.com April 2009)
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan mempelajari filsafat adalah mengasah kemapuan dalam mencari hakikat kebenaran sesuatu, baik dalam logika (kebenaran berpikir), etika (berperilaku), maupun metafisik (hakikat keaslian)
- Ontologi
Pemahaman ontologik meningkatkan pemahaman manusia tentang sifat dasar berbagai benda yang akhimya akan menentukan pendapat bahkan keyakinannya mengenai apa dan bagaimana (yang) ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang dicarinya[7]
Jadi, Pemahaman ontology memberikan sebuah pencerahan mengeanai kerangka interpretasi dari segala sesuatu yang ada dan mungkin ada, baik secara wujud, esensi, isi dan substansi.
- Epistimologi
Menurut Runes (1971:94) dalam Dictionary of Philosophy, kata epistemologi berasal dari kata episteme di tambah logos, theory. Dari akar kata ini ditarik penjelasan epistemologi sebagai berikut: Epistemologi sebagai cabang fislasat yang meyelidiki tentang keaslian, pengertian, struktur, metoda dan validitas ilmu pengetahuan. Episteme berarti juga pengetahuan sekaligus ilmu yang membahas tentang (a) apa itu pengetahuan?, dan (b) bagaimana cara memperoleh pengetehuan?[8]
Rumusan lain tentang epistemologi dikemukakan oleh Suhono yang dikutip dari (Pranaka, 1979:132). Menyatakan, bahwa epistemologi adalah teori mengenai hakekat ilmu pengetahuan, ialah bagian filsafat mengenai refleksi manusuia atas kenyataan[9]. Dari beberapa kutipan di atas nampak dengan jelas, bahwa pada dasarnya epistemologi bersangkutan dengan masalah-masalah yang meliputi: (a) filsafat, yaitu sebagai cabang filsafat yang berusaha mencari hakekat dan kebenaran pengetahuan, (b) metoda, sebagai metoda bertujuan mengantar manusia untk memperoleh pengetahuan, dan (c) sistem, sebagai suatu sistem bertujuan memperoleh realitas kebenaran pengetahuan itu sendiri.
- Pengetahuan dan Ilmu
- Pengertian
- Pengetahuan
Pengetahuan dalam bahasa latin; episteme (knowledge) yang berarti juga teori tentang segala sesuatu yang ada dan mungkin ada.
Menurut Syarif bin Muhammad al-Jurjanji yang dikutip oleh Prof. Syukriyadi Sambas dalam bukunya ilmu mantik, bahwa pengetahuan adalah suatu keyakinan yang pasti dan sesuai dengan kenyataannya[10].
Sementara itu, pengetahuan adalah kesatuan dari hasil pertemuan antara subjek tahu (rasio) dengan objek tahu (sesuatu yang ada dan mungkin ada). Jadi pengetahuan itu adalah hasil kerja tahu yang secara sadar disimpan dalam nalar[11].
- Ilmu
Ilmu berasal dari bahasa Arab: ‘alima, ya’lamu, ‘ilman yang berarti mengetahui, memahami dan mengerti benar-benar. Dalam bahasa Inggris disebut Science, dari bahasa Latin yang berasal dari kata Scientia (pengetahuan) atau Scire (mengetahui). Sedangkan dalam bahasa Yunani adalah Episteme (pengetahuan).
Dalam kamus Bahasa Indonesia, ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang tersusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang itu[12]
Menurut Nadzir (1988), ilmu adalah pengetahuan umum dan sistematis. Dan didapatkan dengan metode tertentu dan kebenarannya bersifat ferivikatif. Ilmu juga merupakan akumulasi pengetahuan yang telah dissistematisasi dan diorganisasi sedemikian rupa berdasarkan pengetahuan yang procedural, metodologis, teknis, serta normative akademis.
- Perbedaan dan persamaan
Ilmu dan pengetahuan merupakan dua hal yang lahir dari hasil kerja rasio. Keduanya memiliki objek formal maupun material, sama-sama memiliki paradigma dan metode (Filsafat Ilmu Ahmad Tafsir 2006).
Perbedaan ilmu dengan pengetahuan terletak pada syarat dan sifat yang harus selalu dimiliki oleh ilmu, karena ilmu lebih tinggi dari pada pengetahuan. Syarat ilmu itu harus dilandasi dengan metode ilmiah (scientific method) da ferivikatif (teruji kebenarannya). Selalin itu, sifat dari ilmu sendiri adalah sistematis dan terstruktur.
- Pengertian Metode, Metodologi, dan Metode Ilmiah
Metodologi berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari tiga kata yaitu: metha (lewat, melalui), thodos(jalan, cara), dan logos (teori, ilmu). Jadi metode merupakan jalan atau cara yang ditempuh untuk mendapatkan sesuatu, sedangkan metodologi adalah teori atau ilmu yang mempelajari tentang cara-cara untuk mendapatkan atau memperoleh kebenaran dengan menggunakan tata cara tertentu dalam ranah realitas.
Sedangkan metode ilmiah (scientific method) adalah suatu cara yang sistematis, bersifat teknis dan logis yang selalu digunakan dalam menempuh suatu penelitian untuk memperoleh pengetahuan dari objek yang empiris.
- Pengetehuan
- Sumber Pengetahuan
Secara garis besar, ada lima jawaban tentang sumber pengetahuan manusia, yakni rasionalisme, empirisme, fenomenalisme, intuisionisme, dan metode ilmiah.
- Rasionalisme
Kaum rasionalisme mengajarkan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio tanpa menyangkal peran dan fungsi indra. Plato menyatakan bahwa pengetahuan lewat indra bukan lah pengetauan yang sebenarnya melainkan pseudo knowledge pengetahuan yang semu (mitos). Menurutnya pengetahuan rasio (idea)lah yang bersipat tetap dan tidak berubah secara fenomenal seperti halnya pengetahuan indra atau mitos. Dari sumber rasionalime ini pada akhirnya akan bermuara pada pengetahuan filsafat.
- Empirisme
Mereka mengajarkan bahwa pengetahuan didapat melalui pengalaman. Peran rasio hanya sedikit saja, yang lebih menentukan adalah pengalaman indra. Akal hanya hanya merupakan temapat penampungan yang secara pasif menerima apa yang diterima oleh indra. Jadi, menurut mereka sumber pengetahuan adalah pengalaman indrawi. Pengetahuan ini bermuara pada pengetahuan sains.
- Fenomenalisme Kant
Menurut Kant pengetahuan hanya dihasilkan dari kerjasama antara pengalaman indra dan akal budi. Fenomenalisme merupakan penengah antara empirisme dan rasionalisme. Mereka beranggapan dalam proses pengetahuan antara unsure rasio dan dan indra sama-sama berperan dan mustahil pengetahuan bisa lahir jika salah satu dari keduanya tidak memiliki peran yang berarti.
- Intuisionisme
Pengetahuan intuitif adalah pengetahuan yang bersifat langsung, sebab tidak dikomunikasikan melalui media symbol. Seperti pengetahuan diskursif yang bersifat tidak analitis dan diperoleh melelui perantara dan symbol. Pengetahuan intuitif diperoleh melelui intuisi (penglihatan langsung), dan menurutnya inilah pengetahuan yang lengkap karena intuisionisme lebih subyektif daripada pengetahuan rasionalisme dan empirisme.
- Metode Ilmiah
Sumber inilah yang sering digunakan oleh para ilmuan untuk menjawab berbagai persoalan dan pertanyaan tetang sesuatu. Metode ilmiah memiliki beberapa unsur berikut:
Sejumlah pengamatan yang digunakan sebagai dasar untuk merumuskan masalah, Hipotesa untuk penyelasaian yang berupa saran, dan Eksperimentasi; merupakan kajian terhadap hipotesa, hipotesa yang kebenarannya dapat dibuktikan dan diperkuat oleh hokum yang didalamnya terdapat teori. Unsure ini disebut juga dengan ferivikasi[13].
Ahmad Tafsir menguraikan mengenai pengetahuan, objek pengetahuan, paradigma pengetahuan, dan metode pengetahuan sebagai berikut:
No | Pengetahuan | Objek | Paradigma | Metode | Ukuran kebenaran |
1 | Sain | Empiris | Sain | Ilmiah | Ferivikasi |
2 | Filsafat | Abstrak rasional | Rasional | Rasional | Logika |
3 | Mistis | Abstrak supra rasional | Pelatihan Mistis spiritualis | Rasa, iman, logis, dan terkadang empiris | Intuisi |
Ukuran Kebenaran
Berfikir merupakan suatu aktifitas manusia untukmenemukan kebenaran. Apa yang disebut benar oleh seseorang belum tentubenar bagi orang lain. Oleh karena itu diperlukan suatu ukuran atau kriteriakebenaran.
Ada tiga jenis kebenaran yaitu: kebenaran epistemologi(berkaitan dengan pengetahuan), kebenaran ontologis(berkaitan dengan sesuatu yang ada atau diadakan), dan kebenaran semantis (berkaitan dengan bahasa dantutur kata)
Ada 4 teori kebenaran : yaitu teori Korespondensi, TeoriKoherensi, Teori Pragmatisme, dan Teori KebenaranIllahiah atau agama.
Ketiga teori pertama mempunyai perbedaan paradigma. Teori koherensi mendasarkan diri pada kebenaran rasio, teori korespondensi pada kebenaran faktual, dan teori fragmatisme fungsional pada fungsi dan kegunaan kebenaran itu sendiri.
Tetapi ketiganya memiliki persamaan. Yaitu pertama, seluruh teori melibatkan logika, baik logika formal maupun material (deduktif dan induktif), kedua melibatkan bahasa untuk menguji kebenaran itu, dan ketiga menggunakan pengalaman untuk mengetahui kebenaran itu.[14]
Daftar Pustaka
- Maksum, Ali.2009.pengantar filsafat, dari masa klasik sampai postomodernisme. Jogjakarta: Ar-ruzzmedia.
- Jasin,MAskoeri. 1999. Ilmu alamiah dasar. Jakarta: Raja Wali press.
- Nurchelmans, G. fisafart pengetahuan, dalam berpikir secara kefilsafatan.1990
- Komunitas eLearning IlmuKomputer.Com
- Copyright © 2003-2006 IlmuKomputer.Com
- http//.dadananugrah.wordpress March 21, 2009
- http://astaqauliyah.com/2007/05/epistemologi-pengertian-sejarah-dan-ruang-lingkup/)
- Materi-materi perkuliahan
[11] Drs. Enjang AS, M.Si.,M.Ag., pada perkuliahan filsafat ilmu kajian macam-macam pengetahuan dan objeknya.
Oleh: Cepian (Ibn Al-khairi)

Posting Komentar untuk "FILSAFAT ILMU"