Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dakwah Antar Budaya

 
Intercultural Dakwah

 
1.    Komentar cerita da’I (Guru Sarjito)
a.    Tipologi Da’I yang digambarkan dalam cerita guru sarjito merupakan tipe Da’I modern yang berkiprah di lintas nusantara (antar budaya), dengan tidak mengabaikan aspek tradisi dan kultur mad’u. dikatakan sebagai da’I modern yakni, tidak tabu terhadap teknik dan ilmu pengetahuan umum yang bernilai guna bagi kemajuan Islam, sekalipun berasal dari barat (hasan al-banna dalam syafiq A. mugni, 1999. : 204), sehingga beliau mampu menjalankan dakwah sambil terus berusaha mengembangkan bakat dan kemampuannya di bidang yang dia kuasai yaitu elektronik. Dengan demikian beliau tidak menggantungakan pemenuhan kebutuhan hidup keluarganya dari jalan berdakwah. Selain beliau berusaha memberdayakan masyarakat, terlebih dahulu beliau memberdayakan diri dan keluarganya sehingga tidak ada beban dalam menjalankan dakwahnya.
b.    Dengan memperhatikan cerita singkat pengalaman guru Sarjito, mulai dari aspek metode, materi, media dan citranya, diperkirakan ada beberapa ke-mungkinan yang bisa terjadi. Kemungkinan pertama, dari metode yang beliau gunakan yaitu pendekatan simbolik cultural terhadap mad’u, mampu mendekati metode hikmah, menurut Sayid Qutub (1997 : 22) dakwah dengan metode hikmah aka terwujud apabila memeperhatikan factor. Pertama, keadaan dan situasi mad’u. kedua, kadar atau ukuran materi dakwah yang disampaikan agar mereka tidak keberatan dengan beban materi tersebut. Ketiga, metode penyampaian materi dakwah dengan membuat variasi sedemikian rupa yang sesuai dengan kondisi pada saat itu. Sedangkan “menurut Muhammad Husen Yusuf, dakwah dengan hikmah berarti dakwah yang disesuaikan dengan kadar akal, bahasa dan lingkungan mad’u”(dalam Enjang AS dan Aliyuddin, 2004: 89) Maka da’I seperti itu (menggunakan bahasa mad’u) akan mengundang simpati dari mad’u karena merasa diakui dan dihargai tradisinya. Selain itu, akan mudah dikenal mad’u dari kalangan dan ras manapun.
Kedua, materi, yaitu pesan-pesan atau segala sesuatu yang harus disampaikan oleh da’I kepada mad’u (Enjang AS dan Aliyuddin mengutif Hafi ANshari, 2009 : 80) sebagaimana dalam cerita di atas, setidaknya ada salah satu pointer yang pernah dikatakan oleh Syukriadi Sambas sepuluh maksud pesan al-qur’an yaitu”mereformasi kehidupan sosial kemasyarakatan dan social politik atas dasar kesatuan nilai kedamaian, dan keselamatan dalam beragama” (Syukriadi Sambas, 2004: 48) yaitu materi yang disampaikan secara damai dan mengedepankan asas persatuan mad’u ditambah dengan formulasi basic kepesantrenan dan teknologi yang beliau miliki akan menjadikan dakwahnya memiliki variasi dan inovasi tersendiri sehingga efektif, dan berbobot.
Ketiga, seorang da’I modern yang mandiri akan menjadi figure baik untuk para da’I yang lain maupun bagi mad’unya.
c.    Prospek da’I dan dakwah model Sarjito sangat berpeluang untuk mengembangkan sayap dakwah termasuk kesejahteraan da’I yang tidak hanya berkiprah dalam dunia ceramah dan retorika melainkan bekerja sebagai tukang refarasi elektronik dan menggarap yayasan pembimbingan umroh. Akan tetapi salah satu komponen yang harus dihindari darinya adalah kemegahan yang dipamerkan seperti membawa mobil mewah tetapi harus mengedepankan kesederhanaan sebagai teladan bagi mad’u.
2.    Signifakansi Pendekatan Tasawuf Dalam Dakwah Di Era Pra Industry
Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung "sufistik berbasis salaf" Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang(http//id.wikipedia.org/wiki/sunan-bonang). Mungkin itulah salah satu penguat argument mengenai signifikansi pendekatan tasawuf dalam dakwah sebelum masuk ke era industri.
Pendekatan tasawuf memang signifikan saat itu karena dilihat dari aspek da’I dan mad’u dalam dakwah tidak terlalu banyak kebutuhan yang harus dipenuhi dalam proses dakwah, disamping itu, media dakwah sangat terbatas sekali baik dari segi kebudayaan yang berkembang maupun hambatan dan persaingan dakwah dari kaum imperialispun belum begitu membahayakan.
3.    Pendekatan Dakwah Antarbudaya Relevan Untuk Setiap Masa.
Dalam aspek normative theologies (al-qur’an) dakwah lintas budaya memiliki forsi tersendiri mengenai relevansi dakwah untuk meningkatkan ketaqwaan salah satunya tersurat dalam firman Allah Swt. (al-Hujurat, 49:13):”Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Budaya bukan merupakan aspek integral dari agama Islam(Endang Saefuddin Anshari, cet. Keempat. 1993:98), akan tetapi  Islam menggemarkan pemelluknya untuk menjelajahi kebudayaan-kebudayaan (al-hajj 22: 46). Jadi pendekatan dakwah antarbudaya relevan sejak zaman Rasul, sampai sekarang dan seterusnya.
Ditilik dari aspek politis (siasah) pendekatan dakwah antarbudaya karena dalam proses pelaksanannya dan penyampaian secara retorikatif bersifat diplomasi dan mengedepankan tasamuh (toleransi).
Secara sosiologis, relevansi DAB saya gambarkan dengan mengutip skema hubungan sosiologi dan komunikasi sebagai berikut:
Sumber : Buku Model-model Komunikasi Perspektif Pohon Komunikasi
 
 

(Nina W. Syam, 2009:10)
Secara sosiologis dan antropologis Skema ini akan tetap menggambarkan relevansi DAB Setiap masa.




Referensi;
1.    Al-quranul kariim
2.    Syam, Nina W., 2009. Sosiologi Komunikasi. Bandung: Humaniora
3.    Anshari, Endang Saifuddin, 1993. Wawasan Islam Pokok-pokok Pikiran Tentang islam dan Umatnya. Jakarta: PT. GrafindoPersada
4.    Trj. Mughni, Syafiq A., 1999. Kajian Ilmu Tafsir –Tafsir Surat al-Fatihah dan al-Baqarah, Tafsir Hasan al-Banna Apendiks:biografi dan Pemikiran Penulis. Jakarta: Pustaka Progresif
5.    Machendrawati ,Nanih dan Agus Ahmad Safei. 2001. Pengembangan masyarakat islam: dari Ideologi, Strategi sampai Tradisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
6.    AS. Enjang dan Aliyuddin, 2009. Dasar-dasar Ilmu Dakwah Pendekatan Filosofis dan Praktis. Bandung: Widya Padjadjaran
7.    Soekanto, Soerjono, 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja GrafindoPersada
8.    http//id.wikipedia.org/wiki/sunan-bonang

Posting Komentar untuk "Dakwah Antar Budaya"