Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mudik Antara Budaya dan Agama

Budaya Mudik Positif atau Konsumtif?
Hari raya ‘idain (iedul fitri dan iedul adha) merupakan hari istimewa di hati kaum muslimin pada khususnya,  momen ini seolah satu-satunya momen untuk melepas rasa rindu dan kangen terhadap sanak saudara, teman, kerabat dan suasan kampung halaman. Bagaimana tidak, setelah sekian lama tidak berkumpul karena masing-masing kepentingan yang memaksa memisahkan indahnya suasana kebersamaan dengan keluarga, sahabat, dan teman di kampung halaman. Oleh karena itu, setidaknya kita akan merasa sangat menyayangkan jika harus melewatkan kesempatan tahunan untuk berkumpul bercanda ria melepas kangen dengan berbagi cerita tentang pengalaman masing-masing, seandainya terlewatkan maka kita perlu waktu satu tahun untuk mendapatkan kesempatan ini, itu pun kalau usia kita sampai pada tahun berikutnya.
Kenikmatan yang besar bagi setiap musllim tatkala bisa berkumpul bersama keluarga pada hari raya sambil menukmati ketupat ayam. Sehingga suasana ini seolah menjadi menjadi magnet yang menarik setiap muslim untuk pulang kampung (mudik) sampai mereka rela ngantri distatsiun 1,2, 3 hari bahkan satu minggu untuk bisa mudik. Begitupun di terminal-terminal bis yang sudah kita ketehui bersama tentang resiko yang menantang mereka, mulai dari perampokan, pencopetan bahkan sering terjadi nyawa pun jadi taruhannya.
Mudik menjadi hal yang fenomenal setiap tahun seiring dengan boomingnya urbanisasi sehingga banyak masyarakat desa yang merantau ke kota meninggalkan keluarga dan mungkin hanya setahun sekali mudik untuk bertemu dengan keluarga. Hal positif dari mudik memang banyak  diantaranya mungkin silaturahmi bisa terjalin dengan semua kerabat di kampung halaman, dan ada kepuasan tersendiri bagi kita jika bisa berkumpul dengan orang tua dan semua kerabat untuk merayakan hari kemenangan.
Akan tetapi, di sisi lain mudik yang meledak dari tahun ke-tahun seolah mengajarkan gaya hidup yang konsumtif. selain ongkos mudik yang naik sampai 100%, rasanya tidak begitu indah kalau mudik tidak  banyak membawa oleh-oleh sehingga tak ayal uang yang dikumpulkan selama satu tahun yang kita relakakan diri kita jauh dari orang-orang yang kita cintai di kampung halaman hanya untuk mendapatkan uang yang pada akhirnya habis dalam beberapa hari saja.
Cukup dilematis memang, di samping momen kebersamaan ini adalah momen tahunan tapi melihat resiko dan pengeluaran yang royal kiranya kita perlu merenungkan lagi tentang mudik di tahun yang akan datang, dengan menjadikan mudik tahun ini sebagai cerminan. Kalaulah hanya kepuasan psikis yang kita dapatkan sedangkan harta dan mungkin ynawa kita taruhkan dengan berdesak-desakan untuk mendapatkan tiket kepulangan rasanya tidak pantas terulangi lagi jika memang kita berani membuka pikiran kita karena masih banyak hal yang positif sekalipun dengan tidak memilih mudik di detik-detik akhir hari “H”.
Dan munkin kita juga perlu merenungkan tentang nasib perekonomian negara kita yang semakin amburadul, sehingga setiap orang harus merantau ke kota-kota demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya dampaknya jumlah arus mudik dari tahun ke tahun terus saja meningkat, banyak koraban kehilangan barang, anak dahkan nyawa. Coba saja seandainya sector perekonomian yang  dikembangkan pemerintah adala sector ekonomi mikro di pedesaan, sehinggs angka urbanisasi dari tahun ke tahun bisa berkurang maka insyaALLAH arus mudik tidak akan begitu membludak dan membudaya.
Diposkan oleh : Cepian Ibnu al-khiri

Posting Komentar untuk "Mudik Antara Budaya dan Agama"