Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tentang Anak Tuhan


"katakanlah, dialah Allah Ahad. Allah tempat menggantungkan segala sesuatu. Tidak melahirkan (anak), dan juga tidak dilahirkan (sebagai anak). Dan tidak ada satupun yang setara dengan-Nya." QS. Al-Ikhlas.

Tentang anak tuhan, tuhan bapak, dan tuhan ibu. Bagaimanakah dan sejak kapan terbentuknya keluarga tuhan?

Mengenai Awal terbentuknya keluarga tuhan adalah masalah yang enggan dibicarakan oleh umat kristen. Trutama mengenai hubungan perkawinan antara Tuhan Bapak dengan Maryam secara terang-terangan. Karena memang sama sekali tidak masuk di akal, sebab maryam adalah jelas-jelas manusia yang terlahir dari keluarga Imran. Sementara Allah Maha Suci, tidak memiliki kesempurnaan sebagai manusia, dan Dia terlepas dari ketidak sempurnaan. oleh karena itu tidak ada keluarga Tuhan, yang ada hanyala Allahu Ahad. Dan betapa bodohnya orang yang menghina Allah dengan menganggap Nya bersekutu dengan Yesus dan Ruhul Quds.

Benarkah Yesus anak hakiki Tuhan?
Dasar Ilmiah Kedudukan Anak dan Orang Tua

"Pertama-tama dapat sama kita pahami, bahwa ibu dan bapak terlibat secara seimbang dalam menghasilkan seorang anak. Sel-sel manusia mengandung 46 kromosom, yang membawa gen-gen atau plasma-plasma pembawa sifat kehidupan. Ovum (sel telur) seorang ibu memiliki hanya 23 kromosom. Itu adalah separuh dari jumlah 46 kromosom yang terdapat dalam diri setiap laki-laki dan perempuan. Ketika ovum ibu siap dan sedia untuk pembuahan, separuh kromosom yang tidak dia miliki disediakan oleh sperma lakilaki, yang menyatu dan membuahinya. Demikianlah rancangan Tuhan; jika tidak, jumlah kromosom akan berlipat dua pada setiap generasi. Akibat pelipatan tersebut, generasi kedua akan memiliki 92 kromosom; sehingga manusiamanusia akan berubah menjadi raksasa-raksasa dan seluruh proses pertumbuhan akan kacau-balau. Tuhan dengan sangat indah telah merencanakan dan merancang fenomena keberlangsungan hidup makhluk-makhluk, yakni pada tahapan-tahapan produktif dari sel-sel regenerasi, kromosom jumlahnya terbagi dua. Ovum ibu mengandung 23 kromosom dan demikian juga dengan sperma bapak. Dalam kondisi demikian seseorang secara logika dapat memperkirakan bahwa separuh gen pembawa sifat pada anak disediakan oleh perempuan sedangkan separuhnya lagi oleh pasangan laki-lakinya. Inilah yang dimaksud dengan anak dalam makna sebenarnya. Di dalam kelahiran manusia tidak ada definisi lain yang dapat diterapkan tentang anak harfiah. Memang terdapat beberapa variasi dalam metode kelahiran, tetapi tidak ada pengecualian dalam ketentuan dan dasar-dasar yang baru saja dijelaskan.

Dalam kita memusatkan perhatian kepada kelahiran Yesus, marilah kita susun sebuah skenario mengenai apa yang tampaknya telah terjadi dalam kasus beliau. Kemungkinan pertama yang dapat diterima secara ilmiah adalah, sel telur Maryam yang belum dibuahi telah menyediakan 23 kromosom sebagai andil ibu dalam pembentukan embrio/janin. Jika demikian, pertanyaan akan timbul, bagaimana sel telur itu telah dibuahi dan dari mana datangnya ke-23 kromosom penting lainnya? Tidak mungkin untuk mengatakan sel-sel Yesus hanya memiliki 23 kromosom. Tidak ada bayi manusia normal yang dapat lahir hidup-hidup walau hanya dengan 45 kromosom. Walaupun seandainya seorang manusia kekurangan 1 kromosom saja dari 46 yang mutlak diperlukan untuk pembentukan manusia normal, hasilnya akan kacau-balau. Secara ilmiah, Maryam tidak dapat menyediakan ke-46 kromosom seorang diri; yang 23 harus datang dari pihak lain. Jika Tuhan adalah bapak beliau, maka hal itu akan menimbulkan beberapa kemungkinan. Pertama, tentu Tuhan juga memiliki kromosom sama seperti yang dimiliki manusia, yang dalam kasus ini tampaknya telah dimasukkan dengan cara tertentu ke dalam rahim Maryam. Hal itu tidak dapat dipercaya dan tidak dapat diterima; jika Tuhan memiliki kromosomkromosom manusia, berarti Dia bukan lagi Tuhan. Jadi, akibat mempercayai Yesus sebagai anak hakiki Tuhan, status Ketuhanan Sang Bapa pun terancam bahaya.

Kemungkinan kedua adalah, Tuhan telah menciptakan kromosom-kromosom tambahan sebagai suatu gejala penciptaan supernatural. Dengan kata lain, kromosomkromosom itu benar-benar bukan milik Tuhan secara pribadi tetapi telah diciptakan secara mukjizat. Hal ini dengan sendirinya membuat kita menolak hubungan Yesus dengan Tuhan sebagai seorang anak terhadap bapak, dan menyebabkan hal yang sama terhadap hubungan keterikatan antara alam semesta dengan Tuhan, yakni hubungan setiap makhluk ciptaan dengan Pencipta-nya." (e-book. Hadhrat Mirza Tahir Ahmad, dalam Christianity: A Journey from Facts to Fiction. hal:1)


2 komentar untuk "Tentang Anak Tuhan"

  1. Good Job...Very Nice Blog...Sarat pengetahuan , thank U.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you Mbak Nila, atas motifasinya. ini "sekedar" saja hehehe...

      Hapus